Seeking Salvation
Part 1
Seorang
gadis sendirian berjalan di jalanan Kingdom.
Tidak
ada yang menarik dari dia, tidak ada kecantikan untuk membuat orang
memperhatikannya dua kali. Tetapi, dia masih tetap menjadi pusat perhatian,
meski dalam arti negatif.
Mata
hitam kecilnya terlihat seperti penuh dengan kebencian, memberi kesan bahwa dia
terus-menerus melotot pada orang lain, sementara lingkaran hitam di sekitar
matanya membuat orang berpikir bahwa dia adalah tipe wanita yang bergaul dengan
penjahat di lorong-lorong kumuh.
Tetapi
ini berguna ketika berjalan di antara orang banyak saja, tapi begitu sampai di
gerbang kota dan tempat-tempat lainnya, dia akan mendapat pengawasan dan
penyelidikan intensif dari pihak berwenang setempat.
Gadis
itu, Neia Baraja, menatap langit.
Di
atasnya, langit tertutup awan gelap, memberi kesan kalau senja telah tiba
meskipun ini adalah siang hari.
Pusat
dari musim dingin telah berlalu, tapi musim semi masih jauh.
Neia
menghela napas lelah, lalu mengikuti indera tajam yang diwarisi oleh orang
tuanya dan berjalan menuju sebuah penginapan.
Alasan
mengapa dia harus begitu waspada bahkan di dalam kota sekalipun adalah karena
dia merasakan perasaan dikucilkan yang kuat sejak dia memasuki kota ini
Lagi
pula, saat dia mengenakan jubah dengan tudung yang menutupi kepalanya, tidak
ada alesan untuk mengatakan apakah dia orang asing atau bukan. Tetapi, dia tidak
salah menilai hawa kesuraman yang dia rasakan. Dia mengintip orang yang lewat
dan melihat wajah mereka tertekan dan langkah kaki mereka terlihat berat.
Seolah-olah mereka mengenakan kemurungan musim dingin di sekitar diri mereka
sendiri.
Dalam
keadaan normal, dia mungkin mengira itu karena cuaca mendung. Namun, dia merasa
kalau perasaan jebakan -- atau mungkin perasaan suram -- yang dia rasakan di
sini, di ibukota Re-Estize, seharusnya berasal dari sumber lain.
Mungkin
itu karena mereka kalah dalam perperangan belum lama ini Tetapi, jika
dibandingkan dengan orang-orang di Holy Kingdom, mereka seharusnya lebih
bahagia.
Meskipun
wilayah teluk bagian selatan dari Holy Kingdom masih relatif aman, namun daerah
utara sekarang sudah seperti neraka.
Bagi
prajurit pembebasan --- terbentuk dari sisa-sisa prajurit Holy Kingdom Utara
--- dan baginya, yang datang ke sini sebagai anggota rombongan duta besar, hal
itu terasa kurang menyenangkan.
Semakin
dia memikirkannya, semakin dia merasa murung, dan Neia menggapai pinggangnya,
untuk menenangkan dirinya. Sensasi dingin dari baja mengalir di tangannya.
Itu
adalah pedang yang dibawanya, dihiasi dengan logo ordo ksatria Holy Kingdom,
yang menjadi bukti identitasnya.
Biasanya, pedang paladin akan ditingkatkan
dengan sedikit sihir, tapi miliknya tidak. Itu karena ini adalah senjata dari
jenis yang diberikan untuk prajurit yang sedang menjalani pelatihan. Setelah
menyelesaikan latihannya dan proses Pensucian barulah secara resmi dia diangkat
sebagai paladin, dan pedangnya akan diisi dengan sihir.
Itu
adalah salah satu ritual yang terkandung dalam pengenaan mantel paladin. Dan
itu sedikit lebih tajam dari lempeng baja yang ditajamkan. Sampai dia resmi
menjadi paladin, senjata yang dia pakai itu masih merupakan senjata pribadi
yang sudah menemaninya berlatih selama bertahun-tahun. Orang lain tidak bisa
menyalahkannya karena membiasakan mengelus-elus pedangnya saat dia merasa
gelisah.
Sensasi
dari pedang kesayangannya menenangkan hati Neia, dan dia mendesah pelan. Lalu
dia membuka jubahnya dan mempercepat langkahnya.
Kakinya
tertahan setiap kali dia berpikir bahwa dia harus melaporkan kabar buruk.
Tetapi, karena dia tidak menyukai hal-hal seperti itu sehingga dia harus
bergerak cepat, untuk menyelesaikan ini sesegera mungkin. Jika tidak, dia harus
terus menahan perasaan tidak menyenangkan di hatinya.
Akhirnya,
penginapan di mana rombongan duta besar mereka tinggal muncul dihadapannya. Itu
adalah penginapan yang sangat mencolok, dikatakan bahwa termasuk di antara lima
besar di Kingdom. Wajar saja, harga yang dibebankan setinggi peringkatnya.
Saat
memikirkan keadaan tragis dari tanah airnya, Holy Kingdom, dia tidak bisa tidak
merasa bersalah atas bagaimana dia bergelimang dalam kemewahan seperti itu
sementara orang-orang sebangsanya sedang menderita. Sebenarnya, pemimpin wanita
dari rombongan duta besar menentang tinggal di sini justru karena perilaku
mewahnya.
Dia
merasa bahwa mereka harus mengurangi pengeluaran mereka dalam perjalanan ini
dan menggunakan sisa uang di tempat lain.
“Sebagai
wakil dari Holy Kingdom, jika kita tidak menginap di penginapan yang tepat,
orang-orang yang melihat kita mungkin berpikir bahwa Holy Kingdom adalah
kerajaan yang akan segera bangkrut dan hancur. Oleh karena itu, kita harus
tinggal dipenginapan yang bagus untuk menunjukkan bahwa negara kita masih
kuat.”
Logika
asisten komandan tidak terbantahkan. Tidak ada orang lain dalam kelompok yang
bisa menyangkalnya. Tetapi, komandan mereka terbawa emosi dan tidak dapat
menerima usulan itu, dan dia dengan keras kepala menolak untuk mengikutinya.
Setelah perseteruan yang lama, akhirnya dia diyakinkan oleh semua anggota
utusan lainnya untuk dengan enggan memilih penginapan ini.
Tetapi,
semua orang mengerti bahwa dana mereka untuk perjalanan ini sangat terbatas,
jadi mereka tidak dapat mengeluarkan biaya yang tidak perlu. Untuk
menyelesaikan tugas mereka sesegera mungkin, bahkan Neia, seorang squire
(pengawal), telah terikat untuk menjalankan misi ini.
Tujuan
kunjungan rombongan duta besar ke Kingdom tidak lain adalah untuk mencari
bantuan untuk Holy Kingdom. Oleh karena itu, Neia dan anggota utusan lainnya
berkeliling mencoba mengadakan pertemuan dengan para orang yang berpengaruh di
Kingdom.
Siapa
pun bisa membuat janji, bahkan bagi seorang squire. Tidak ada masalah dengan
pemikiran dari komandannya.
Tetapi,
Neia adalah satu-satunya squire di antara utusan tersebut. Yang lainnya adalah
paladin sejati. Bahkan jika dia membuat janji, apa pendapat pihak lain di masa
depan saat mereka mengetahui kalau orang lain telah dikunjungi oleh seorang
paladin, sedangkan mereka hanya dikunjungi seorang squire saja sebagai pembawa
pesan?
Tentunya mereka akan merasa tidak senang.
Bahkan Neia pun tahu itu. Tetapi, meski dia memprotesnya, perintah yang
diturunkan kepadanya tidak berubah. Sebagai squire, hanya sedikit yang bisa dia
katakan. Sepertinya, Neia belum menyerah karenanya.
Jika
itu adalah kegagalan atas dirinya sendiri, dia bisa dengan senang hati
menerimanya. Tetapi, melakukan hal tersebut dapat menyebabkan Holy Kingdom yang
terluka kehilangan lebih banyak bantuan dari Kingdom. Neia tidak bisa begitu
saja menghilangkan fakta bahwa kegagalannya bisa menyebabkan lebih banyak orang
dari bangsanya akan menjadi korban, dengan jawaban sederhana seperti “Ya, saya
mengerti.”
Tetapi,
fakta bahwa seorang pengawal harus segera bergegas beraksi tanpa menunggu
perintah hanya membuat sang pemimpin semakin tidak senang. Dia sepertinya
berpikir bahwa semuanya salah Neia. Untungnya, asisten pemimpin berhasil
menyelesaikan semuanya, tetapi pemimpin utusan tersebut memiliki kesan buruk
terhadap Neia sekarang.
Neia
dipilih untuk rombongan duta besar ini semata-mata karena indranya yang tajam,
yang akan menjamin keselamatan dalam perjalanan mereka ke sini.
Dia
ingin mereka tidak mengharapkannya untuk berkontribusi dalam hal lain.
Tapi
tidak seperti Aku bisa mengatakan itu...
Neia
menatap ke langit dan mendesah Haaah. Kemudian, dia melihat saat kabut putih
yang dia keluarkan melayang perlahan di udara dan lenyap. Saat memikirkan
sambutan tidak senang yang menunggunya di penginapan, perutnya mulai menegang.
Bangsawan
yang harusnya Neia temui bukanlah orang yang sangat penting ---
dia
tidak berperingkat tinggi di Kingdom --- jadi karena tidak bisa membuat janji
dengan dia bukanlah sebuah kemunduran yang besar, tapi meskipun demikian,
pemimpinnya akan memarahinya.
...Biasanya, bahkan jika Kamu ingin
bertemu seseorang yang penting segera, mereka masih memerlukan waktu untuk
meneliti latar belakangmu dan belajar lebih banyak tentangmu. Jadi Kamu baru
bisa mengadakan pertemuan secepatnya dalam kurun waktu seminggu..
Yah,
setidaknya itu tidak terdengar seperti dia hanya mengeluh tentang penolakan
pihak lain.
Menurut
instruksi pemimpin, kami akan meninggalkan Ibu kota dalam beberapa hari...
pemimpin kami, yha...
Pemimpin
mereka yang sekarang selalu gelisah. Dia terlihat seperti tidak bisa
mengendalikan emosi.
Dulu,
dia tidak seperti itu. Neia tahu itu. Dia adalah orang yang ramah ... atau
orang yang cuek, jika seseorang tidak bersikap sopan. Tetapi, sejak pertempuran
di mana mereka kehilangan Holy Queen, terjadi perubahan dramatis dalam
kepribadiannya.
“...
Pekerjaan yang tidak memuaskan, huh.”
Sebagai
squire, satu-satunya hal yang bisa dia lakukan tentang teguran pemimpinnya yang
tidak masuk akal adalah menundukkan kepalanya dan diam-diam menerimanya.
Meski
begitu, hal ini tidak seberapa dibandingkan dengan bagaimana orang-orang yang
masih hidup di Holy Kingdom sedang berjuang. Yang harus dia lakukan hanyalah
menundukkan kepalanya dan menghadapi badai.
Setelah
mengendalikan dirinya untuk menghadapi keadaan yang terburuk --- atau mungkin
dia sudah menyerah --- Neia sampai di depan penginapan.
Dia menarik napas dalam-dalam, menarik
kembali tudungnya, dan kemudian membuka pintu mewah penginapan itu. Seperti
yang diharapkan dari sebuah penginapan kelas tinggi, dia tidak masuk ke ruang
duduk, tapi sebuah ruangan kecil. Sepertinya sudah dirancang bagi para tamu
untuk membersihkan kotoran dari alas kaki mereka.
Tetapi,
tempat yang akan dia tuju ada di sebuah wilayah kelas atas, persis seperti
penginapan ini, dan jalannya telah diaspal dengan batu. Tidak ada hujan, jadi
tidak ada yang perlu dilepas. Karena itu, Neia kemudian membuka pintu di
depannya.
Hembusan
udara hangat membasahi tubuhnya. Setelah masuk, penjaga pintu menutup pintu
setelahnya, ada bar di sebelah kanannya, dan tangga di sebelah kirinya. Di
samping mereka ada sofa yang digunakan untuk menerima tamu. Tidak ada alat
pemanas di dalam ruangan.
Tetapi,
kenyataan bahwa masih ada perbedaan suhu meski ketidakhadiran mereka mungkin
karena adanya magic item. Magic caster di Holy Kingdom pada umumnya adalah
priest, dan sementara mereka bisa membuat beberapa magic item, beberapa dari
magic item yang berharga dibuat untuk meningkatkan daya hidup.
Dalam
hal ini, Kingdom lebih hebat dari Holy Kingdom. Kalau begitu, seberapa maju
Empire, yang pernah disebutkan ayahnya? Meskipun dia mungkin tidak pernah
memiliki kesempatan untuk kesana dalam hidupnya, Neia masih memiliki rasa
kekaguman yang samar pada Empire.
Biasanya,
seorang gadis desa hanya bisa melihat desa sepanjang hidupnya. Seorang warrior
yang tidak berbakat seperti Neia mungkin menghabiskan seluruh hidupnya untuk
melayani negaranya dan tidak pernah mendapat kesempatan untuk mengunjungi
negara lain. Kalau begitu, sepertinya kesempatan untuk bepergian ke luar negeri
bagaikan lempeng perak yang redup di kegelapan awan yang suram (Sulit untuk
terjadi).
Pikiran-pikiran ini melintas di kepala
Neia saat dia menaiki tangga, menuju ruangan di lantai dua tempat utusan
menginap. Orang-orang di penginapan itu sepertinya teringat wajah Neia, karena tidak
ada yang menganggapnya sebagai orang asing dan menghentikannya.
Mengingat
masalah biaya, hanya pemimpin dan asisten pemimpin yang seharusnya tinggal di
sini; anggota lainnya harus tinggal di penginapan yang lebih murah. Tetapi,
mengeluarkan sedikit biaya seperti itu mungkin membuat pihak lain berpikir
bahwa tidak ada masa depan bagi Holy Kingdom.Pada akhirnya, asisten pemimpin
berhasil meyakinkan pemimpin mereka dari kebijaksanaan kata-katanya.
Neia
sampai di pintu kamar atasannya dan mengetuk pintu, lalu membuka sedikit. Di
dalamnya ada paladin yang ditempatkan di dalam ruangan untuk keamanan.
Orang
yang mereka jaga adalah paladin terkuat di Holy Kingdom, yang juga komandan
rombongan duta besar mereka. Dalam hal ini, akan lebih banyak pengikut daripada
pelindung. Dengan logika itu, bukankah lebih bijaksana jika dirinya ditinggal?
Neia tahu lebih baik jika membiarkan mulutnya terbuka akan membuat dirinya
bermasalah, jadi dia tidak akan pernah mengungkapkannya.
“Neia
Baraja, melapor.”
Saat
pintu terbuka, dia masuk ke kamar. Di depannya ada sebuah ruangan besar. Ada
meja panjang di tengah, tempat Kapten duduk.
Kapten
Remedios Custodio dan Wakil Kapten Gustav Montanis keduanya duduk di sana. Dan
dari tujuh belas anggota utusan mereka, lebih dari separuh dari mereka berdiri
tegak di sepanjang dinding. Dia menyelinap mengintip dokumen yang ditumpuk di
atas meja di depan mereka. Kebanyakan dari dokumen itu telah dicoret.
“Kapten.
Neia Baraja ada di sini untuk menyampaikan laporannya.” Dia membusungkan dadanya,
menyesuaikan postur tubuhnya, dan menyebutkan namanya.
“Saya
mohon maaf. Mereka menolak karena kekurangan waktu. Mereka bilang mereka paling
tidak membutuhkan waktu dua minggu.”
“Chih.”
Remedios mengeklik lidahnya.
Perut
Neia terasa sesak. Apakah dia mengungkapkan ketidaksenangannya pada Neia, atau
kepada para bangsawan yang telah menolaknya? Meski ada dua kemungkinan seperti
itu, dia tidak berani mengklarifikasi hal yang menakutkan seperti itu.
“Benarkah.
Terima kasih telah bepergian di tengah-tengah udara yang dingin. Kembali ke
kamarmu dan istirahatlah. “
“Siap!”
Neia
mendengus lega pada perkataan Gustav. Sementara dia ingin segera pergi,
Remedios memanggilnya dan menghentikannya.
“...Aku
ingin bertanya sebelumnya, tapi apakah Kamu benar-benar mengatakan kepada
mereka bahwa kita ingin segera membuka negosiasi?”
“--Ah?
Mm! Iya! Saya mencoba bertanya kepada mereka, tapi sayangnya mereka bilang
tidak...”
“Jadi
bukan karena kegagalanmu, begitu?”
“Ah,
itu, itu -”
Itu
tidak benar, dia ingin mengatakannya, tapi siapa yang berani mengatakannya?
Selain itu, dia sudah tahu bahwa dia tidak akan bisa melepaskan diri dari
teguran ini tidak peduli bagaimana dia menjawabnya.
“...Kapten. Bukan hanya seorang bangsawan
yang dimintanya lalu menolak. Para bangsawan lainnya menolak permintaan
pertemuan dengan cara yang sama. Di antara mereka ada beberapa bangsawan yang
menunjukkan bahwa mereka tidak dapat memberikan bantuan kepada Holy Kingdom,
tapi siapa yang ingin berbicara demikian.”
Remedios
melotot pada Gustav, yang tampaknya telah berbicara untuk menghentikan
pembicaraan mereka.Tidak ada kata-kata yang berlalu di antara mereka, tapi
ketegangan terbentuk di udara.
“-Neia
Baraja.”
“Ya!”
Dia
masih terus saja melototi Neia. Meskipun Neia merasa merendahkan bahunya dalam
kekalahan, dia tidak mengungkapkannya secara langsung, malah menanggapi dengan
nada malu-malu.
Gustav
sekarang telah bergerak di antara mereka berdua, tapi Remedios menghiraukannya
dan terus melotot pada Neia.
“Sementara
kita membuang-buang waktu di sini, banyak dari orang-orang kita dibantai oleh
para demihuman yang dipimpin oleh Jaldabaoth. Selain itu, empat kota besar
telah jatuh, selain kota dan desa yang tak terhitung jumlahnya.”
Keempat
kota tersebut masing-masing: ibu kota Hoburn, yang bertempat di Katedral Agung
yang dianggap sebagai kuil tertinggi dari kepercayaan Holy Kingdom.
Kota
pelabuhan Rimun, yang terletak di sebelah barat ibukota.
Kota
benteng Kalinsha, yang paling dekat dengan tembok, dan yang pertama diserang
oleh demihuman.
Dan
kemudian ada Prart, kota antara Kalinsha dan Hoburn.
Dengan kata lain, sebagian besar kota
besar di utara sekarang berada di bawah kendali gerombolan demihuman
Jaldabaoth.
“Dan
mereka telah menangkap banyak tawanan, yang telah ditahan di kamp-kamp yang
terbuat dari desa-desa dan kota-kota yang direbut. Hanya dengan menyaksikan
makhluk yang di sana cukup untuk membuat orang merinding.”
“Ya!”
Kamp-kamp
itu dikelilingi tembok, dan tidak ada seorangpun yang menyaksikan apa yang
terjadi di dalam karena tidak ada yang berhasil menyusup ke dalamnya. Tetapi,
rumornya mengatakan bahwa mereka dijaga oleh demihuman. Orang-orang yang telah
menyelidiki sedekat mungkin mengatakan bahwa mereka bisa mendengar erangan dan
jeritan kesakitan dari dalam.
Yang
lebih meyakinkan adalah kenyataan bahwa tidak ada yang merasa Jaldabaoth,
sebagai pemimpin para Iblis, akan memberikan perlakuan manusiawi kepada tahanan
manusianya.
“Jadi
mengetahui semua itu, kau masih kembali dengan hasil seperti ini? Apakah kau
mencoba dengan sebaik mungkin? Biasanya kau punya sesuatu untuk ditunjukkan
jika kau sudah melakukannya, bukan?”
“Ya!
Saya mohon maaf sedalam-dalamnya!”
Memang,
dia benar. Remedios benar. Tapi --- pikiran yang muncul di hati Neia menolak
untuk menerimanya.
Dalam
hal itu, apa gunanya Kapten ordo paladin Holy Kingdom jika dia gagal
menyelamatkan tawanan mereka?
Dia
sangat ingin membalas dengan kata-kata itu. Tetapi, sebagai squire Holy
Kingdom, dia tidak mungkin mengatakan hal seperti itu.
“Karena
kau merasa bersalah, rencana apa yang akan kau lakukan? Apa yang bisa kau
lakukan untuk menunjukkan hasil yang pasti? “
Di
hatinya, Neia hanyalah warga biasa Holy Kingdom. Dia tidak memiliki gelar
mulia, kekuasaan atau kekayaan. Dia bahkan bukan seorang paladin, hanya seorang
squire. Tidak ada yang Neia bisa lakukan, untuk menawarkan bangsawan Kingdom
agar menarik mereka. Dalam hal ini, yang bisa dia lakukan hanyalah ---
“Saya
akan bekerja lebih keras.”
pikirnya.
Tetapi, tampaknya jawaban itu tidak sesuai dengan persetujuan Remedios.
“Aku
bertanya bagaimana kau ingin bekerja lebih keras. Usaha yang sia-sia adalah- “
“-Kapten.”
Gustav
menyela Remedios saat dia akan mulai mengatakan sesuatu.
“Mengapa
tidak biarkan saja hal ini sekarang? Lagi pula, ini sudah saatnya kita memulai
persiapan kita, bukan? Anggota Blue Rose yang terhormat akan segera hadir. Jika
kita terlalu lama menyambut mereka, kita akan mengecewakan mereka, bukan?”
“Benar.
Squire Baraja!!! bekerjalah lebih keras dan tunjukkan sesuatu padaku lain
kali.”
“Dimengerti!”
Remedios
membuat gerakan mengusir dengan tangannya. Dengan kata lain, dia berkata cepat
dan bergegaslah.
“Saya
minta maaf, Kapten Remedios!”
Meskipun dia lelah, Neia berteriak seakan
baik-baik saja dan gemetar karena sukacita saat dia meninggalkan ruangan.
Tetapi, sekutunya yang sekarang berubah menjadi musuh yang paling mengerikan
dalam sekejap.
“Kapten,
bolehkah dia hadir saat Blue Rose tiba?”
Kata-kata
Gustav membuat penglihatan Neia berkobar sekilas. Tetapi, ini adalah topik yang
melibatkannya, karena dia adalah seorang squire.
Remedios
menatap ajudannya. Hal ini berbeda dengan saat dia menatap pada Neia. Matanya
yang peduli membuatnya tampak seperti wanita yang telah berubah kepribadiannya,
dan hampir membuatnya bingung.
“Benarkah?
Jadi, kalau kamu bilang begitu ... tapi kenapa?”
“Alasan
utama untuk membawanya sebagai squire adalah karena dia memiliki indera yang
luar biasa. Sepertinya ada hal-hal mungkin yang hanya bisa dia sadari.”
Banyak
paladin dan squire telah tewas dalam pertempuran dengan Jaldabaoth, tetapi
beberapa di antaranya selamat. Meski begitu, alasan dia dipilih untuk menemani
kelompok mereka justru karena inderanya. Sementara paladin adalah warrior yang
sangat baik, mereka hanya sedikit berbeda dari rata-rata orang biasa dalam hal
lain.
Dalam
misi ini, mungkin akan butuh seseorang untuk bisa merasakan yang tak terlihat,
melihat musuh pada jarak yang jauh, menyusup ke jalur pertahanan dan melakukan
tugas lain, yang berarti bahwa akan ada kebutuhan untuk memiliki rekan yang
mampu menguasai seperti skill pengintaian.
Dalam
keadaan normal, seseorang akan memanggil petualang atau pemburu, tapi
kebanyakan mereka sudah mati, dan sisanya telah melarikan diri ke selatan atau
ke negara lain. Oleh karena itu, dengan kandidat yang tidak memenuhi syarat
untuk dipilih, Neia pun terpilih.
Walaupun dia tidak lebih hebat dari
ayahnya, dia merasa bangga dengan fakta bahwa indranya lebih tajam daripada
mereka yang hanya dilatih sebagai paladin. Dia sangat senang karena bakatnya
bisa melayani negaranya, tapi perasaan itu terus-menerus hilang. Sekarang, dia
mulai membenci kenyataan bahwa dia telah terpilih.
“Benarkah?
... Baiklah, jika kamu berpikir begitu, lakukanlah. Aku setuju.”
“Terima
kasih banyak, Kapten.”
“...Squire
Baraja. Seperti yang baru saja kami katakan, kamu akan tetap berada di sudut
ruangan dan mendengarkan pembicaraan kami. Jika terjadi sesuatu, beritahu kami.
...Sekarang kembali ke kamarmu dan segarkan dirimu sebelum kembali.”
“Siap!”
Akhirnya,
aku bebas pikir Neia, tapi kemudian Gustav mengikutinya tepat saat dia pergi.
Setelah
mereka meninggalkan ruangan, dia berbicara pelan kepadanya.
“Saya
minta maaf tentang Kapten.”
Neia
berhenti, berbalik, dan kemudian dia menyuarakan keraguan yang selama ini
tersimpan di hatinya.
“...
Apakah saya melakukan sesuatu yang membuat Kapten marah? Maksud saya, saya
pernah mendengar bahwa pertempuran di mana kita kehilangan kota mengubah dia
sepenuhnya, jadi apa yang sebenarnya terjadi?”
“...
Banyak paladin mati dalam pertempuran dengan Jaldabaoth, termasuk Holy
Queen-sama dan saudari perempuan Kapten.”
Aku
tahu itu. Tapi mengapa?
Hal
yang sama juga terjadi pada Neia.
Baik ayah dan ibunya sudah meninggal.
Orang seperti ini hampir tidak biasa di seluruh Holy Kingdom. Tentu saja, dia
sebenarnya tidak bisa mengatakannya.
“Tanpa
ada tempat untuk melampiaskan kesedihan dan kemarahan yang dia rasakan dari
itu, Kapten memilih untuk menempatkannya padamu. Aku pikir alasan mengapa dia
tidak melakukannya pada kami paladin adalah karena kami berjuang dan menderita
bersamanya.”
Apa!?,
Neia menggerutu dalam hatinya.
Dengan
kata lain, semua ini karena Neia tidak ambil bagian dalam pertempuran itu.
Ini
tidak adil
Setengah
dari rekan-rekan Neia sesama squire telah melakukan perjalanan ke kota yang
sama dan banyak dari mereka berakhir sebagai korban jiwa. Alasan mengapa Neia
tidak berada di setengah itu adalah karena keberuntungannya, dan bukan karena
pilihan yang dibuat Neia.
“Izinkan
juga aku mengatakan ini: tolong tahanlah itu. Saat ini, Kapten adalah orang
yang tak tergantikan untuk Holy Kingdom.”
“...
Bahkan jika dia membawa kemarahannya pada orang lain dan membuat mereka
merasakan waktu-waktu yang sulit, begitu?”
“Benar.”
Gustav
menatapnya dengan tatapan sedih di matanya.
Kemarahan
melintas di sekujur tubuhnya. Dia ingin berteriak. Neia tahu wanita itu kuat,
tapi tetap saja, Neia juga telah melakukan bagiannya untuk mengawalnya ke
Kingdom dengan aman. Dia menyadari adanya demihuman dan dia lebih waspada
daripada orang lain saat mereka berkemah di malam hari.
Karena
itulah, Neia tidak merasa dirinya kurang berharga dari wanita itu.
Tetapi,
Neia membatalkan perasaannya ketika sudah bergejolak.
Dia
harus menanggung ini demi orang-orang yang menderita di Holy Kingdom.
Membiarkan salah satu dari mereka bertengkar, akan memperpanjang ratapan orang-orang
yang tak terhitung jumlahnya, merupakan tindakan terbodoh yang bisa
dibayangkan.
Selain
itu, dia akan bebas dari tugas ini begitu dia kembali ke negara tersebut.
Jadi,
yang harus dia lakukan hanyalah menahannya beberapa saat lagi.
Neia
tersenyum dan mengangguk.
“Dimengert.
Jika demi Holy Kingdom, saya akan menahannya dengan senyuman.”
♦
♦ ♦
Blue
Rose tiba di penginapan tidak lama setelah Neia kembali dari kamar.
Neia
menunggu, di antara paladin yang berdiri tak bergerak di dekat dinding.
Segera,
pintu itu terbuka, dan sekelompok orang masuk.
Meskipun
mereka bukan orang yang terkenal, reputasi mereka masih sangat baik di Holy
Kingdom, dan itu membuat jantung Neia berdebar kencang. Mereka adalah
wanita-wanita yang telah naik ke puncak yang tidak dapat dirinya jangkau .
Secara pribadi, dia ingin bertanya kepada mereka segala macam pertanyaan.
Sepertinya, dia tidak bisa melakukan hal seperti itu.
Mereka
adalah ... salah satu dari tiga kelompok petualang peringkat Adamantite di
Kingdom. Blue Rose ... mereka mengagumkan ...
Sementara
dia mendengar deskripsi dan nama mereka dari rumor, ini adalah pertama kalinya
dia melihat mereka secara langsung. Ada perbedaan yang cukup besar antara
bagaimana dia membayangkan mereka dari cerita dan bagaimana mereka yang
sebenarnya.
Yang
berdiri di depan mereka adalah pemimpin Blue Rose. Dia adalah seorang priest
yang memiliki simbol suci Dewa Air, the wielder of the demonic blade (pengguna
pedang Demon), Kilineyram --- Lakyus Alvein Dale Aindra.
Wajahnya
yang indah itu sedemikian rupa sehingga bahkan sesama perempuan pun akan
terpesona olehnya, dan sulit dipercaya bahwa dia adalah petualang kelas atas.
Jika dia mengenakan gaun, dia akan menjadi gambaran seorang putri pada umumnya
seperti yang dibayangkan Neia.
Wanita
cantik itu berbicara dengan suara lembut yang sesuai dengan semua fantasi Neia
tentang dirinya.
“Terima
kasih atas undangannya. Kami adalah Blue Rose.”
Remedios,
yang berdiri menyambut mereka, mengangguk sedikit untuk mengungkapkan rasa
syukurnya.
“Saya
tidak bisa cukup hanya dengan berterima kasih untuk dapat menerima undangan
kami, anggota terhormat Blue Rose.”
“Kami
adalah orang-orang yang merasa terhormat menerima undangan dari paladin yang
mengenakan pedang suci dan memiliki kemampuan bertemput yang sesuai, Remedios
Custodio-sama.”
Pembicaraan
mereka memperlihatkan cara bicara Remedios yang sederhana dan agak kaku lalu
membedakannya dengan Lakyus. Cara berbicara yang alami. Sepertinya dia
benar-benar putri bangsawan.
“Ah, sayalah yang seharusnya senang
bertemu dengan pemegang Demonic Blade(pedang Iblis) seperti Anda sendiri. Ahem.
Silahkan duduk. Orang-orang di sekitar kami semua adalah paladin Holy Kingdom.
Akan baik jika kami semua bisa mendengarkan. Erm, jika ada waktu setelah itu,
saya sangat ingin melihat pedang iblis itu.”
“Dengan
senang hati, dan kesempatan untuk menyaksikan pedang suci Anda akan
menyenangkan saya yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata. “
“Selanjutnya,
sebagai tuan rumah kami mempersilahkan duduk untuk semua orang.”
Anggota
Blue Rose masing-masing duduk dengan cara mereka sendiri. Beberapa dari mereka
sudah melipat tangan mereka dan meraih siku mereka. Itu Neia bertanya-tanya apa
mereka selalu seperti itu atau apa mereka mempelajarinya.
“Haruskah
kami memperkenalkan diri?”
Wakil
Kapten menjawab, mungkin untuk membantu Remedios.
“Tidak,
tidak perlu. Berita tentang eksploitasi anda telah berhasil melewati Holy
Kingdom. Ah, dan maaf mungkin agak terlambat untuk ini, saya adalah Wakil
Kapten Ordo Paladin, Gustavo Montanjes. “
Lakyus
tersenyum lembut menanggapi jawaban Gustav.
“Benarkah.
Alangkah baiknya jika berita itu disanjung. “
“Ah-”
“-Iya.
Kami tidak pernah mendengar apa-apa selain hal baik tentang Anda. Sebenarnya,
sulit bagi saya untuk menyembunyikan kegembiraan saya atas penaklukan heroic
Anda-.”
Sepertinya
Remedios ingin mengatakan sesuatu, tapi Gustav telah menyela dia. Setelah itu,
dia tersenyum kepada Lakyus seperti tidak ada masalah.
“Betapa menyenangkan. Meskipun saya ingin
bertanya tentang rumor macam apa, kami berada di sini hari ini untuk menerima
permintaan. Bukan niat kami untuk membuang waktu berharga klien kami. Karena
itu, mari kita bahas secara khusus permintaan ini.”
“Mhm~.
Sebelum itu, saya ingin menanyakan nama gadis itu -”
Neia
langsung ketakutan saat menyadari salah satu twin thieves (Pencuri Kembar) itu
tertarik padanya.
Yang
lainnya juga menatapnya dengan penuh minat. Mereka berdua sepertinya twin
thieves yang dikenal sebagai Tia dan Tina. Meskipun menjadi anggota Blue Rose
yang terkenal bahkan di Holy Kingdom, tidak ada rumor atau cerita tentang
perbuatan mereka.
Mereka
adalah sepasang individu misterius. Dan sekarang orang-orang itu menunjuk
padanya. Dia merasa seperti dia tiba-tiba didorong ke atas panggung dari tempat
duduk penonton. Pikiran seperti Kenapa, apa ini, apa yang terjadi ini telintas
dalam pikirannya.
“Gadis
itu tidak memiliki tubuh warrior. Berbeda dengan si otot milik kami. “
“Oi!
Apa maksudnya itu!?”
Orang
yang sempat berbicara adalah Gagaran, pahlawan wanita yang tubuhnya seperti dinding
tebal.
“Persis
seperti yang aku katakan... Dia bukan warrior, tak peduli bagaimana kau
melihatnya. Sekarang ini baru seorang warrior.”
“Oi
oi, kamu bisa melatih tubuhmu dengan experience (exp/atau bisa juga diartian ke
bahasa indo yang artinya ‘Pengalaman’), kamu tahu kan.”
“Jadi
kamu akan berubah begitu, Gagaran?” Wajah thieves membatu.
“Jangan
kasar, aku merasa kasihan pada gadis itu.”
“Tidak
ada yang berubah. Hanya saja itu menyakitkan ketika kau menangkapku dengan
kekuatan konyolmu saat aku sedang tidur -”
“-Cukup
kalian berdua ... maafkan saya, begitulah keadaan kami.”
“Tidak
apa-apa. Namanya Neia Baraja. Dia memiliki indera yang tajam, dan dia
memberikan banyak kontribusi selama perjalanan kami di sini. “
“Saya
mengerti.” Jawabannya datar dan tanpa emosi, tidak lucu sedikit pun.
“..
Mm. Nah, sepertinya itu salah kami, kami belum membuat kemajuan sama sekali.
Jika tidak ada yang keberatan, haruskah kita mulai membahas masalah ini? Juga,
tidak ada gunanya berbicara seperti bangsawan, kan? Mari kita lanjutkan, kalau
begitu?”
“Evileye,”
kata Lakyus dengan nada mencela.
Dia
adalah arcane magic caster misterius Evileye. Wajahnya berbalut topeng, dia
bisa menggunakan mantra yang kuat, tapi dia tidak pernah melepaskannya dalam
kondisi apapun.
Dia
memiliki tubuh yang sangat mungil --- beberapa rumor mengatakan bahwa dia
mungkin berasal dari spesies bertubuh kecil.
“Tidak,
tidak apa-apa. Aku sama sekali tidak ahli dalam hal rumit seperti ini.”
“Kapten…
“
“...
Kuku. Jadi, pemimpin pihak lain telah memberikan persetujuan mereka ---
bagaimana dengan kita? Selain itu, begitu mereka membayar biaya yang sesuai,
mereka akan menjadi klien kita. Jangan repot-repot memikirkan urusan lain dan
mempertanyakan soal uang. Tidakkah lebih baik menyelesaikan kesepakatan lebih
cepat lebih baik?” Lakyus menghela napas, dan Evileye melanjutkan, tampaknya
mencibir mereka.
“Baiklah, atasan kami juga telah memberi persetujuannya,
jadi kami akan memastikan detailnya sebelum kami membicarakan pembayaran? Saya
ingin Anda membicarakan tentang orang yang mengacaukan negara Anda, Jaldabaoth?
“
“Anda
tahu?”
“Oi
oi, apa menurutmu kami tidak tahu apa yang dilakukan bangsawan? Kingdom juga
memiliki saudagar. Ditambah, Guild petualang juga bertukar informasi. Kabarnya,
bagaimana dengan itu? Mau berbagi apa yang kalian tahu juga? Terus terang, kami
lebih senang mendapatkan informasi daripada uang.”
“Mm...
bolehkah saya membicarakan hal ini dengan Gustav lebih dahulu?”
Evileye
melambaikan tangan untuk menunjukkan bahwa mereka harus melanjutkan, dan
kemudian Remedios dan Gustav bangkit dan memasuki ruangan sebelah --- kamar
tidur.
“Kalau
begitu, bisakah kita menggunakan botol (Teko) ini?”
Gagaran
menunjuk ke botol air dan gelas di sekelilingnya saat dia berbicara dengan
Neia.
Kenapa
aku, Neia resah saat menjawab, “Silahkan.” Dia ingin memuji dirinya sendiri
karena nada sempurna dan tidak membiarkan suaranya bergetar. Setelah Gagaran
menuangkan air untuk semua orang, Remedios dan Gustav kembali.
“Kami
akan membayar biaya Anda, jadi bisakah Anda memberi tahu kami apa yang Anda
ketahui?”
Uwah,
pikir Neia. Entah kenapa, dia merasa Remedios, yang mengeluh tentang biaya
tinggal di penginapan, tidak akan menyetujuinya. Sementara Gustav sempat
mengatakan sesuatu padanya, Neia tidak tahu alasan apa yang dia gunakan untuk
meyakinkannya.
“Baiklah, meski saya pikir kami bisa
memberi tahu apa yang ingin anda ketahui jika Anda memberi tahu kami tentang
keadaan sebenarnya Holy Kingdom sekarang.”
“Tolong
biarkan kami membayar biaya yang telah ditentukan.”
Gustav
segera meletakkan sebuah kantong kecil di atas meja.
“Mm,
oi.”
Evileye
menyentakkan dagunya ke salah satu Thieve. Menanggapi hal itu, dia dengan cepat
mengulurkan tangan dan menyambar kantong itu, melemparkannya ke atas dan ke
bawah dengan lembut di tangannya. Lalu dia menangkapnya dan mengangguk pada
Evileye.
Dia
mungkin mencoba untuk melihat apakah itu berisi sejumlah yang diharapkan dengan
sensasi dari melemparkan dan menangkapnya.
“Baik.
Lalu saya dan Evileye, akan menjelaskannya mewakili Blue Rose... Meskipun,
seperti yang saya katakan tadi, agak tidak realistis jika Anda menuntut semua
informasi yang kami miliki tentang Jaldabaoth. Mari kita mulai dengan
membicarakan apa yang terjadi di negara kami. Tapi sebelum itu, saya ingin
memverifikasi sesuatu dengan Anda. Jaldabaoth Anda terlihat seperti ini, kan?”
Evileye
mengambil pulpen dan kertas dari samping meja dan mulai menggambar dengan
goresan cairan. Tetapi, gambaran yang dia hasilkan hanya bisa dianggap sebagai
tulisan kekanak-kanakan.
Remedios
hendak mengatakan, “Bukan, bukan itu ...”sebelum salah satu si kembar menyambar
kertas itu dan merobeknya menjadi dua.
“Apa
yang kau lakukan!?”
Sementara Evileye sangat marah, si kembar
lainnya menyambar pulpen saat itu dan menarik dengan cepat selembar kertas
baru, lalu menunjukkan Evileye hasil gambarannya. Evileye bergumam, Uguu dengan
nada tidak puas.
Sebenarnya,
kualitasnya jauh lebih baik daripada gambarnya yang sebelumnya. Penampilannya
sangat sulit digambarkan dengan kata-kata. Dia mengenakan pakaian asing dan
mengenakan topeng aneh.
Setelah
melihat foto itu, Remedios dengan marah mengepalkan tinjunya dan menggeram
seperti binatang buas.
“Bajingan
Itu.”
Setelah
melihat ini, si kembar dan Evileye menghentikan perseteruan mereka dan berbalik
menghadap Remdios.
“Baiklah,
kami telah membuktikan satu hal, bahwa itu sama --- Iblis yang sama. Nah, jika
iblis seperti itu bisa muncul satu demi satu, kita akan berada dalam masalah.
Terima kasih banyak, seperti yang mereka katakan. Sekarang”
Evileye
kemudian mulai menceritakan kejadian yang telah terjadi di Ibu Kota, dan Neia
meringis di dalam hatinya.
Dia
tahu Jaldabaoth kuat. Dan dia tahu bahwa pasukan iblis dan iblis bersisik itu
ada, jadi dia tidak terkejut oleh mereka. Tapi kenyataan kalau ada 5 Demon Maid
yang masing-masing Demon Maid setara dengan Petualang kelas adamantite membuat
rasa putus asanya meningkat
Aku
pikir tidak ada yang melihat Demon Maid di Holy Kingdom. Jadi apakah mereka
kartu as Jaldabaoth? Berpikir dia punya sesuatu seperti itu ...
“-
Lalu, berapa perkiraan Anda tingkat kesulitan Jaldabaoth?”
Pertanyaan
Gustav menyebabkan Blue Rose saling memandang, tetapi pada akhirnya Evileye
yang berbicara mewakili semua orang.
“Biarkan aku menyelesaikan ini dulu, nilai
ini hanyalah sebuah dugaan. Mungkin lebih tinggi, mungkin lebih rendah, jadi
saya harap Anda mengingatnya. Kami memperkirakan kesulitan demon itu sekitar
dua ratus.”
“Dua
ratus...”
Gustav
tersentak. Neia juga hampir tersentak, tapi dia berhasil menahan dorongan itu.
Beberapa paladin yang berdiri di dekat dinding tidak begitu berhasil. Remedios
adalah satu-satunya yang tetap tenang, ekspresinya tidak berubah.
Jika
Neia mengingatnya dengan benar, kesulitan seratus monster bukanlah sesuatu yang
bisa dikalahkan manusia.
“Persisnya
seberapa kuat tingkat dua ratus itu?”
Evileye
sepertinya sedikit kesulitan untuk menjawab pertanyaan langsung Remedios.
“Meskipun
makhluk dengan tingkat kesulitan dua ratus tidak pernah muncul di dunia manusia
sebelumnya... yah, Old Dragon kira-kira bernilai sekitar seratus.”
“Old
Dragon ... meskipun saya belum pernah melawannya, apakah itu sama dengan
Guardian Deity of the oceans (Dewa Penjaga Laut)?”
Dewa
penjaga laut mengacu pada Naga Laut yang ada di laut. Ada dua tangan dan kaki
dan ekor panjang yang tebal yang menggantikan sayapnya yang tidak berhias.
Itu
lebih mirip Ular Laut daripada Naga, dan kecerdasannya sama atau melampaui
manusia. Guardian Deity of the oceans adalah makhluk yang baik hati yang akan
melindungi kapal jika mereka dipuja.
Neia sangat beruntung bisa melihatnya
sekali, dari kejauhan, saat mereka pergi ke Rimun untuk berlibur.
Naga
itu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi di atas permukaan laut, dan terlihat
cukup agung untuk mendapatkan gelar Dewa Penjaga. Sulit membayangkan manusia
bisa mengendalikan makhluk seperti itu.
“Kapten
Remedios. Jika kita menggunakan acuan mengalahkan Dewa Pelindung sebagai garis
dasar ... hm, jika ada seorang nelayan di sini dia mungkin akan memberikan kita
tatapan permusuhan. Tetap saja, itu berarti dia dua kali lebih kuat dari Old
Dragon.”
“Tepat.
Kami telah menentukan bahwa dia lebih kuat dari Demon God yang dikalahkan oleh
Tiga Belas Pahlawan. Artinya, kemunculannya di dunia manusia akan menjadi
tragedi besar dan beberapa negara akan hancur. Begitulah kuatnya dia.”
“Meskipun,
saya mendengar kabarnya bahwa ketika Jaldabaoth mendatangkan malapetaka di
Kingdom, dia diusir oleh Momon-dono. Itu berarti Momon-dono pasti sama kuatnya
kan?”
Remedios
menelan ludah, lalu melanjutkan. “Atau apakah itu berarti - dia menggunakan
beberapa jenis item spesial saat mengalahkan Jaldabaoth?”
Saat
itulah sikap Evileye berubah.
Neia
tidak bisa melihat wajahnya, tapi dia merasa wajahnya memerah di bawah topeng
miliknya.
“Aku
tidak berpikir dia menggunakan item seperti itu. Tetapi, Momon-sama bertempur
hebat saat berduel dengan Jaldabaoth. Saat itu aku melawan bawahan Jaldabaoth,
jadi aku tidak melihat pertarungan penuhnya, tapi itu adalah pertempuran yang
mengerikan. Itu adalah pertempuran yang dilakukan oleh pahlawan di antara
pahlawan, juara di antara para juara.”
“Apa,
begitu?”
Itu yang bisa dikatakan Gustav untuk
memeras kata-kata itu setelah dipecahkan oleh kehadiran Evileye saat dia
membungkam dirinya sendiri.
“Tepat
sekali! Ah, betapa menakjubkan pertempurannya. Momon-sama membelaku saat dia
melawan Jaldabaoth, kau tahu.”
“Jadi
dia melawan Jaldabaoth --- monster itu --- dan mengusirnya? Benarkah?”
“Apa!?
Apakah kau berpikir apa yang aku lihat dengan kedua mataku sendiri adalah
sebuah kebohongan!?”
Evileye
membalas pertanyaan Remedios dengan jawaban kasar. Gustav berusaha keras untuk
menghilangkan suasana gelisah di udara.
“Ah,
tidak, yang dimaksud Kapten adalah bahwa jika Darkness (Momon) bisa menyerang
titik lemah Jaldabaoth, mungkin kita juga bisa melakukan sesuatu. Saya minta
maaf karena tidak menjelaskannya.”
“Tidak,
kami yang seharusnya meminta maaf atas nada kekanak-kanakan yang dilakukan
Evileye dengan klien.”
Jawaban
itu datang dari Lakyus. Apa ini, ketika dua pemain utama diusir dan pemain
pendukung tiba mereka meneruskan dengan lancar percakapan di antara mereka sendiri.
“Mm
... yah, anggap Jaldabaoth benar-benar memiliki titik lemah, tapi Momon-sama
pasti menang dengan menyerangnya. Sulit membayangkan iblis seperti itu akan
membiarkan kelemahannya tidak dijaga.”
“Memang
... mungkin dia menggunakan item atau bawahan untuk melindunginya.”
Meskipun
ini adalah pertama kalinya dia mendengar tentang demon maid, Jaldabaoth
memiliki beberapa demon maid yang kuat. Setelah menanyai tawanan demihuman,
mereka tahu setidaknya ada tiga di antaranya.
Ada
iblis yang memerintah kota pelabuhan Rimun.
Dan
kemudian, ada iblis bersisik yang memerintah prajurit demihuman tersebut.
“Baiklah,
dapatkah Anda memberi tahu kami secara rinci tentang iblis bersisik yang Anda
sebutkan tadi?”
“Benar,
dapatkah Anda memberi tahu kami kemampuan apa yang dimilikinya?”
“Baiklah,
saya melawannya sebelumnya, jadi saya akan menggantikan Evileye dan
menjelaskannya secara rinci.”
Dia
menggambarkan kemampuannya dan bagaimana mereka melawannya.
Cerita
Lakyus berakhir dengan Brain Unglaus --- seorang pria di tingkat
Gazef
--- membunuh demon itu.
“...Itu
aneh. Jaldabaoth tidak melakukan gerakan apapun setelah menaklukkan ibukota
Holy Kingdom, tapi iblis bersisik telah memerintahkan prajurit demihuman di
tempatnya. Bukankah dia sudah mati?”
“Saya
mengerti ... bagaimanapun, kami pernah bertemu dengan rekan kami Brain ini
sebelumnya, dan saya rasa dia tidak berbohong. Ini mungkin bukan sejenis iblis
yang unik, hanya saja iblis berperingkat tinggi.”
“Dengan
kata lain, Jaldabaoth bisa menyihir iblis itu beberapa kali selama kondisi
tertentu terpenuhi? Atau mungkin dia bisa memanggil iblis yang sama
berkali-kali?”
Neia
tidak bisa menggunakan sihir, tapi dia pernah mendengarnya selama
pembelajarannya.
Ketika datang untuk pelajaran sihir
pemanggilan, memanggil banyak makhluk adalah hal yang sangat sulit. Dengan kata
lain, ketika mantra memanggil aktif, melepaskan mantra pemanggil lain akan
menyebabkan mantra pemanggilan sebelumnya berakhir. Monster yang dipanggil saat
ini akan kembali ke asal mereka dan monster baru akan dipanggil menggantikan
mereka.
Tetapi,
orang-orang yang mampu menggunakan mantra pemanggil tingkat tinggi dapat secara
bersamaan menyihir beberapa monster yang lebih lemah sekaligus, dari jenis yang
akan dibangkitkan dengan mantra pemanggil tingkat rendah. Misalnya, seseorang
bisa menggunakan mantra tingkat empat untuk memanggil banyak monster yang bisa
dipanggil oleh mantra tingkat ketiga.
“Aku
sama sekali tidak mengerti. Metode pemanggilan iblisnya masih misteri. Meskipun
dia rasanya seperti sedang memanggil mereka dengan sebuah mantra, dia tidak
mungkin bisa memanggil beberapa iblis dari berkekuatan semacam itu ... tapi
jika dia bisa, itu akan menimbulkan pertanyaan mengapa dia tidak melakukannya
di Kingdom. Mungkin jika dia adalah seorang magic caster yang mengkhususkan
diri dalam pemanggilan, dia bisa secara bersamaan memanggil banyak tiruan dari
makhluk seperti itu...”
“Jadi,
kalaupun kita berhasil mengalahkan semua iblis bersisik, Jaldabaoth bisa segera
memanggilnya kembali?”
“Benar
sekali. Tetapi, itu mengacu pada situasi di mana Jaldabaoth menyihir mereka.
Jika dia menggunakan semacam kemampuan khusus untuk melakukannya, itu akan
menjadi masalah lain.”
“Jadi
Anda tidak tahu banyak tentang hal itu.”
“Maaf,
aku tidak tahu. Kami tahu sedikit tentang dia.” Evileye terdengar sangat
berkecil hati.”
“...
Erm, aku sama sekali tidak mengerti?”
“Tidak,
mulai klarifikasi sekarang. Aku belum bisa mengikuti pembicaraan dari
sekarang.”
seperti
yang diharapkan dari Kapten kita... orang yang bertanggung jawab atas kita
semua...
“Begitulah,
apakah maid serangga yang menjijikkan itu juga berasal dari Summon Jaldabaoth?”
“Aku
tidak tahu. Aku tidak ingin berpikir seperti itu ...”
Anggota
Blue Rose mulai berdiskusi di antara mereka sendiri.
“Eh,
bolehkah saya mengajukan pertanyaan?” Semua orang berpaling untuk melihat Neia
setelah dia dengan gugup angkat bicara, dan tekanan yang luar biasa membuatnya
menyesal melakukannya. Mungkin lebih baik bagi orang lain selain dia untuk
melakukannya. Tetapi, nasi sudah menjadi bubur, dan setelah menguatkan
tekadnya, dia bertanya:
“Ini
mungkin pertanyaan yang sangat mendasar, tapi dari mana asal Jaldabaoth? Apakah
nama Jaldabaoth diturunkan dari masa lalu sebelumnya?”
“Itu
tidak jelas. Kami telah mempelajari segala macam literatur, tapi kami belum
bisa menemukan nama itu di dalamnya. Kami juga mencoba mencari petunjuk berdasarkan
penampilannya, namun, kami juga belum dapat membuat kemajuan.”
“Apa
ada kemungkinan kalau itu sebuah alias? Mungkin dia menimbulkan masalah dengan
nama yang berbeda di masa lalu?”
“Aku meragukan itu. Bagi demon --- ini
juga berlaku bagi malaikat --- nama mereka adalah bagian yang sangat penting
dari keberadaan mereka. Jika iblis ingin muncul, ia harus mengukir namanya ke
dunia. Oleh karena itu, mereka tidak bisa menggunakan nama palsu. Mencoba
menunjukkan dengan menggunakan nama palsu bahkan bisa menyebabkan mereka
menghilang saat itu juga.”
Neia
sama sekali tidak tahu apa-apa tentang malaikat dan iblis, tapi jika magic
caster berstatus adamantite mengatakannya, maka itulah yang seharusnya terjadi.
“Mengenai
asal usulnya, jika dia berasal dari sisi lain benua ini, wajar bila tidak ada
informasi tentang dia ... tapi setelah berpikir begitu banyak, setiap
kemungkinan sepertinya sama, dan karena itu tidak ada yang tahu di mana dia
berasal.” Evileye mengangkat bahu.
“...
Katakanlah. Bagaimana jika penampilan Jaldabaoth salah? Apa Jaldabaoth yang
kamu lihat sama dengan Jaldabaoth yang ada di gambar itu? Bagaimana kalau dia
menyamar?”
“Ho,”
Evileye mencondongkan tubuh ke arah Remedios.
“Bisakah
kau menjelaskan lebih detail?”
“Kami
berhasil menekan Jaldabaoth dalam bentuk itu dengan sangat buruk, dan kemudian
dia mengungkapkan wujudnya yang sebenarnya ...” Remedios memejamkan mata.
“Itu
adalah kekalahan bagi kami.”
“Bisakah
kau lebih jelas?”
“Tidak
apa-apa, kan, Gustav?”
“Ya,
tidak ada yang keberatan di sini. Jika kita bisa belajar lebih banyak tentang
dia dari penampilannya, menyembunyikan informasi itu akan menjadi berbahaya.”
Remedios
mulai bergumam dan menggerutu, lalu dia memberi tahu Evileye tentang penampilan
Jaldabaoth.
Di
tengah cerita, wajah Remedios berubah dalam kemarahan. Dia mungkin ingat
pertempuran yang tidak diketahui siapa pun di sini.
“Begitukah,
kami akan melanjutkan penyelidikan kami berdasarkan apa yang baru saja kami
pelajari. Kami akan terus menginformasikan kalian hal yang kami temukan, jadi
bisakah kau memberi tahu kami jika kau ingin tinggal di kota?”
“Kami
belum memutuskannya. Bagaimanapun, apakah itu berarti Anda tidak tahu apa-apa
tentang bentuknya?”
“---Lakyus,
apa kamu ingat?” Lakyus menggelengkan kepalanya.
“Begitulah
adanya. Maaf.”
“Saya
mengerti. Kemudian, setelah kami mengambil keputusan, kami akan segera
menghubungi Anda.”
“Tapi
dalam kasus ini, kita harus mempertimbangkan skenario terburuk --- kemungkinan
bahwa penampilannya di Kingdom dimaksudkan untuk menciptakan kesan yang salah,
jadi dia dengan sengaja menahan diri untuk tidak menunjukkan kekuatan
sejatinya.”
“Dengan
kata lain, negara kami adalah tujuan utama Jaldabaoth, dan bahwa dia punya
rencana lain untuk Kingdom?”
“Mungkin.
Jika Kingdom adalah prioritas utamanya, dia akan menunjukkan bentuk aslinya
seperti yang dia lakukan di Holy Kingdom, bukan? Atau apakah karena dia
dikejutkan oleh kekuatan Momon-sama, dan memilih untuk melindungi identitas
aslinya daripada membiarkan rencananya hancur? Aku benar-benar tidak ingin
berpikir begitu.”
Kata-kata Evileye menyebabkan ruangan itu
dalam keheningan yang suram, sangat dalam sehingga bahkan suara napas yang
samar terdengar sangat nyaring. Siapa yang akan bicara dulu? Dalam suasana
tegang ini, Lakyus menunjukkan keberaniannya.
“Kalau
begitu, izinkan saya mengatakannya lagi --- kita berada di kapal
(posisi/tempat) yang sama dengan Anda. Kami ingin tahu lebih banyak tentang
Jaldabaoth. Terus terang, semua yang telah kami pelajari pada dasarnya adalah
analisis dari pertemuan kami dengannya. Kami tidak memiliki dugaan tentang
tujuan, identitas, atau kemampuan Jaldabaoth.”
“Mungkin
kami bisa memanggil iblis untuk belajar tentang Jaldabaoth ... Tapi itu akan
menodai jiwa ... Dan bahkan jika kami memanggil iblis tingkat rendah,
kemungkinan besar mereka tidak akan tahu apa-apa tentang iblis tingkat tinggi.
Dalam hal ini, kami harus menghubungi Summoner (Pemanggil) yang ahli…”
“Masalahnya,
kami tidak mengenal siapa pun yang pandai memanggil iblis.”
Evileye
adalah orang pertama yang melengkapi kata-kata Lakyus, diikuti oleh salah satu
si kembar.
Tentunya
tak seorang pun tahu, setidaknya tidak dalam keadaan biasa, pikir Neia.
Orang-orang
jahatlah yang biasanya bisa men-summon (Memanggil) para iblis, dan untungnya
hanya sedikit dari mereka yang memiliki kekuatan lebih. Itu karena sepanjang
waktu, mereka juga menghancurkan diri mereka sendiri atau mereka dibunuh oleh Death
Squad(skuad pembunuh).
Tentu
saja, mungkin ada beberapa yang ahli di bidang lain yang telah berhasil
melewati celah itu, tapi orang-orang seperti itu biasanya bersembunyi di
kegelapan, dan tidak akan bersosialisasi.
“Tetap saja, menunggu di sana untuk mati
sangat membuat frustrasi. Jika lain kali monster itu datang ke Kingdom, aku
ingin membuatnya menangis dengan kedua tanganku sendiri. Untuk melakukan itu,
aku perlu belajar sebanyak mungkin tentang dia.”
“Juga,
dia tidak memimpin demihuman di Kingdom. Jika dia merekrut para demihuman
karena kegagalannya di Kingdom, maka kita harus lebih waspada terhadapnya.”
Kata-kata itu diucapkan oleh Gagaran, dan kemudian salah satu kembaran yang
lain.
“Itukah
sebabnya Anda ingin tahu apa yang kami ketahui?”
Semua
orang di Blue Rose mengangguk. Lakyus menyimpulkan untuk mereka.
“Kami
akan membayar jumlah yang sama dengan biaya yang seharusnya kami terima.”
“Kapten.
Bolehkah saya menangani negosiasi yang akan datang?” Remedios segera menyetujui
pertanyaan Gustav.
“---
Uang yang telah dibayarkan, kami menginginkan bentuk balasan yang lainnya.”
“Apa
itu? Sementara kami ingin melayani Anda, kami tidak dapat melakukan semuanya
... Tetapi, jika Anda ingin melakukan kontak dengan bangsawan yang hebat, itu bisa
diatur. “
“Apakah
begitu? Terima kasih banyak. Tetapi, kami tidak memikirkan hal itu
----
bisakah Anda datang ke negara kami dan berjuang di samping kami?” Ruangan itu
terdiam sekali lagi.
Itu
berlangsung beberapa saat --- tidak, mungkin lebih lama. Suara berikutnya yang
mereka dengar adalah suara Lakyus yang bersandar di kursinya.
“...
Kami mengumpulkan informasi agar kami tidak mati. Melakukan hal itu akan
bertentangan dengan tujuan kami.” Mengangkat bahu, seolah mengatakan tidak ada
yang bisa dilakukan mengenai hal itu.
“Kami
tidak akan meminta Anda untuk melawan Jaldabaoth. Yang perlu Anda lakukan
adalah menunggu di belakang dan membantu menggunakan sihir penyembuhan.”
“Ayo
pergi, kami tidak punya banyak nyawa untuk melakukan itu.” Gagaran tidak mau
repot-repot mengucapkan kata-katanya.
Itu
benar. Bagian utara Holy Kingdom sekarang ditaklukkan oleh para demihuman
Jaldabaoth, dan yang bisa mereka lakukan hanyalah meningkatkan pertahanan yang
lemah. Banyak orang dipenjara di kamp, dan paladin yang tersisa bersembunyi di
gua dan hidup sebagai pejuang perlawanan.
“Bukan,
bukan itu masalahnya. Kami tepat waktu dalam menghentikan pergerakan maju
demihuman.”
Mereka
masih bertahan di selatan, di mana prajurit dan pasukan Jaldabaoth saling
berhadapan satu sama lain, jadi dengan menyebutnya dengan titik kritis mungkin
akurat.
Bagi
Neia, siapa yang tahu apa yang sedang terjadi, kata-kata Gustav terdengar lebih
mirip kebohongan daripada kebenaran.
“Bisakah
kalian datang, dan membantu untuk menangani masalah itu?”
“Kami
menolak.”
Remedios menyampaikan pertanyaannya dari
postur tubuh yang baik, dan Evileye dengan tegas menolaknya.
Mengingat
semua orang di Blue Rose tetap diam, paling tidak mereka semua sama dalam
pendapatnya. Mereka pasti semua merasakan hal yang sama.
“...
Terus terang ... mungkin kami menghentikan pergerakan mereka pada waktunya,
tapi kami juga di ujung tanduk. Holy Kingdom hancur, tapi pasukan selatan masih
utuh. Tetapi, mereka sendiri tidak akan cukup untuk mengalahkan Jaldabaoth.”
Gustav menuang segelas air untuk dirinya, meminumnya, dan kemudian melanjutkan.
“Alasan
mengapa kami belum sepenuhnya ditaklukkan adalah karena angkatan laut telah menekan
tentara Jaldabaoth di garis pantai utara dan menahan mereka. Jika Jaldabaoth
berhasil menemukan cara untuk mengatasi hal itu dan membawa pasukannya ke
selatan, kami akan segera kalah.”
Tetapi,
itulah pemikiran seorang pria dari utara, yang tahu kekuatan Jaldabaoth.
Orang-orang di selatan mungkin akan memiliki rencana yang berbeda. Misalnya,
mengusir Jaldabaoth dengan kekuatan mereka sendiri.
Meskipun
sebagian alasannya adalah karena mereka tidak berbagi informasi mereka, itu
juga karena permusuhan lama antara utara dan selatan.
Sejak
awal, para bangsawan di selatan selalu memprotes fakta bahwa seorang wanita ---
yang mendahului kakak laki-lakinya --- akan dinobatkan sebagai Holy Queen untuk
pertama kalinya dalam sejarah.
Oleh
karena itu, Holy Queen sebelumnya mengabaikan tuduhan yang tidak berdasar
seperti “Holy Queen mengambil posisinya karena dia memiliki sesuatu hal yang
terjadi dengan kuil, dan dia dibantu oleh Kylardos Custodio” yang berasal dari
selatan, bertujuan untuk menghindari keretakan antara utara dan selatan.
Setelah itu, selatan tidak memunculkan
masalah lebih jauh dan dengan demikian konfrontasi skala penuh dihindari, tapi
itu hanya karena utara dan selatan telah berada dalam keseimbangan dalam
kekuasaan. Kini setelah utara runtuh, selatan tidak memiliki alasan untuk
menahan diri lagi.Dengan demikian, selatan mulai tidak mempedulikan utara
sekarang.
Bahkan
dalam menghadapi invasi Jaldabaoth, manusia masih saling dendam terhadap satu
sama lain. Neia benar-benar menemukan hal yang menggelikan dari itu. Selain
itu, ada isu perebutan kekuasaan untuk posisi Holy King berikutnya, dan
membantu membuat Neia, orang biasa, menjadi lebih tidak bahagia.
“Itu
sangat buruk.”
“Tepat.
Angkatan laut memiliki kekuatan udara yang sangat sedikit, dan pertempuran
mereka melawan iblis yang terbang telah membuat korban yang mengerikan. Jika
ini terus berlanjut, mereka tidak akan bisa menahan pasukan Jaldabaoth
selamanya. Kami butuh kekuatan untuk memecahkan kebuntuan ini! Tolong, saya
mohon, pinjamkan kekuatan kalian pada kami! Yang kami butuhkan hanya satu atau
dua bulan! Kami bisa membayar apapun yang kalian mau! Saya mohon, tolong
selamatkan Holy Kingdom.”
Saat
Gustav menundukkan kepalanya pada mereka, Neia dan paladin lainnya membungkuk
juga seraya berkata “Tolonglah!”.
Ruangan
itu sunyi sekali lagi, dan kemudian suara Lakyus menyebar melewatinya.
“Tolong
angkat kepala kalian. Dan --- saya mohon maaf, tapi kami tidak bisa pergi ke
Holy Kingdom.”
“Kenapa!?”
Neia
menyentakkan kepalanya saat teriakan tiba-tiba dari Remedios. Dia melihat
Remedios bangkit dari kursinya dan melotot pada Lakyus.
“Jaldabaoth tidak akan berhenti untuk
menaklukkan Holy Kingdom! Dia akan mengumpulkan kekuatannya di sana dan
kemudian menyerang Kingdom, Kamu tahu itu! Jika kamu tidak mengalahkannya
sekarang, dia akan menjadi lebih kuat lagi di masa depan! “
“Anda
benar. Kemungkinan itu sangat tinggi.”
“Kalau
kamu mengerti, mengapa kamu tidak membantu kami!? Dan bukan hanya kamu, ini
juga para bangsawan negeri ini, negara kami! Tak satu pun dari kalian
memahaminya! Bukankah sekarang saatnya untuk bersatu dan berjuang bersama!? “
“...
Alasan mengapa bangsawan negara ini tidak akan meminjamkan kekuatan kepada
kalian agak berbeda dari kami sendiri. Apa yang Anda tahu tentang Sorcerous
Kingdom?”
“Undead
telah mengambil alih sebuah kota di Kingdom dan mendirikan sebuah negara di
sekitarnya. Tempat itu sangat menakutkan. Semua warga Holy Kingdom rata-rata
mengetahuinya”.
Seperti
yang Remedios katakan, Lakyus tersenyum pahit padanya.
“Itu
benar, dan sangat akurat ... tapi ada yang salah ... meskipun undead ada
dimana-mana, manusia di sana hidup dengan aman dan damai.”
“...
Eh? Di sebuah negara yang didirikan oleh undead, yang membenci kehidupan?”
“Ada
banyak jenis undead, dan Sorcerer King adalah penguasa undead. Memerintahkan
undead di bawah perintahnya untuk tidak menyakiti manusia dan menegakkan
perintah itu adalah hal sederhana baginya.”
Evileye
membuat suara tidak setuju.
“Evileye ... Mm, Ngomong-ngomong kami
masih memiliki Sorcerous Kingdom sebelum kita berhadapan, jadi sulit bagi
mereka untuk membantu negara anda. Juga, banyak orang tewas dalam pertempuran
dengan Sorcerous Kingdom, yang akan memiliki konsekuensi serius di masa depan.
Para bangsawan yang terlihat sangat kaya mungkin tidak sebaik yang Anda
pikirkan.”
“Meskipun
begitu, bukankah masalah Jaldabaoth yang harus diurus sesegera mungkin?
Faktanya adalah, banyak orang menderita karena Jaldabaoth. Dan Sorcerer apapun
itu tidak menyakiti orang-orang, kan?”
“...
Berjuang di dua barisan sekaligus saat kamu kelelahan sangat berbahaya. Saya
percaya saya tidak perlu mengatakannya kepada Anda, bukan? “
Remedios
menutup mulut.
“Bagaimanapun,
kami juga sama. Dua dari kami terbunuh dalam pertempuran dengan Jaldabaoth dan
saat mereka dibangkitkan dari kematian, mereka masih belum mendapatkan kembali
kekuatan penuh mereka. Jika kami menyerang wilayah Jaldabaoth di negara bagian
ini, kami semua mungkin akan terbunuh.”
“Bukankah
Gustav mengatakan bahwa Anda tidak perlu melawan Jaldabaoth?”
“Ya ampun, dia benar-benar percaya itu ...”
“Tia!
Permisi. Ahem. Saya mohon maaf, tapi saya tidak berpikir semuanya akan berjalan
seperti yang Anda bayangkan. Selama menyangkut risiko menghadapi Jaldabaoth,
kami akan menolak pekerjaan ini. Kami perlu menjadi lebih kuat dari kami
sekarang untuk mempersiapkan masa depan...
Ini
hanya sebuah dugaan, tapi kami perlu bersiap-siap jika Jaldabaoth memutuskan
untuk menyerang Kingdom sekali lagi.”
Wajah-wajah
setiap anggota Blue Rose tidak bergerak. Sepertinya mereka tidak bisa
terpengaruh. Segera, Remedios berhasil memeras beberapa patah kata.
“Hanya
ada satu orang,” jawab Evileye.
“Atau
lebih tepatnya, dia orang yang harus Anda datangi untuk pertama kalinya,
bukan?”
“...Siapa
itu?”
“
Tentu saja, Momon-sama. Momon-sama yang mengalahkan Jaldabaoth.”
“Ohhh!
Apakah dia?!”
“Sebentar,
Kapten Custodio ... kalau saya tidak salah, dia ...?”
“Anda
pernah mendengarnya, kan? Ya, Momon-sama sekarang berada di Sorcerous Kingdom
dan merupakan salah satu bawahan Sorcerer King. Karena itu, kemungkinan besar
Anda harus meyakinkan Sorcerer King untuk membantu Anda.”
“Guh!”
Remedios mendengus.
Neia
mengerti bagaimana perasaannya. Setiap warga Holy Kingdom akan memiliki
perasaan yang sangat rumit tentang bertanya sesuatu tentang undead. Mengingat
dia, sebagai squire, merasa seperti itu, seberapa parahkah hal itu bagi kapten
ordo paladin yang membawa pedang suci? Tetapi --- Remedios menatap kuat anggota
Blue Rose.
“...
Jika itu cara terbaik untuk mengalahkan Jaldabaoth, maka ayo kita lakukan.
Tidak, hanya itu yang bisa kita lakukan. Jika kita bisa, kita akan menaruh
harapan kita pada Momon itu-”
“-Aku
percaya dengan Momon-sama, Kapten.”
“Eh,
erk! Bisakah kalian menulis surat untuk mengenalkan kami pada Momon-sama?”
OVERLORD
Volume 12 Chapter 2 Part 1 Selesai


No comments:
Post a Comment
Berkomentarlah dengan Sopan