Trying Out Being an Adventurer – Part 1
Pagi
berikutnya—
Dengan
cahaya yang menyebar masuk dari jendela kecil, Diablo terbangun. Langit-langit
yang tidak familiar, dinding yang dia tidak kenal. Segalanya tampak tua dan
terbuat dari kayu, namun itu berkilauan.
Mungkin
karena dia menendang selimutnya, selimut tersebut lepas dari tubuhnya. Tempat
tidur dari jerami dengan seprai yang diletakkan di atasnya, itu lebih lembut
dari yang dia fikirkan, namun masih agak keras. Meski dengan badannya yang
tinggi, dia sama sekali tidak terganggu dengan hal itu.
Saat
bau rerumputan tercium, aroma wangi dari kompos sedikit tertarik ke hidungnya.
Dia tidak tahu apakah seprai itu terbuat dari katun atau linen, tapi itu sangat
berbeda dari segi kehalusan dan kelembutannya dibandingkan dengan yang ada di
dunia nyata. Dan itu terasa kasar dan gatal.
Tempat
sekarang dia berada adalah dunia lain yang sangat mirip dengan MMORPG yang
disebut Cross Reverie.
Ketika
dia mulai membuka mata, semuanya tidak lain adalah mimpi dan hari-harinya dari
dunia nyata akan dimulai– namun situasinya sama sekali tidak berubah.
—
Aku benar-benar datang ke dunia lain, hah?
Saat
dia memikirkan itu dengan wajah setengah sadar, dia menyipitkan matanya dari
sinar matahari pagi. Itu adalah cahaya yang bersinar masuk melalui lubang kecil
seolah matahari tidak ingin menunjukkan wajahnya, dengan cahaya lilin yang
telah padam, ruangan itu jadi gelap gulita. Namun cahaya yang masuk itu lebih
dari cukup untuk menerangi ruangan tersebut.
Dia
tidak yakin kapan dia tertidur. Seharusnya saat dia menghadapi orang-orang dari
Lembaga Penyihir bukanlah sekedar mimpi belaka. Namun, dia agak samar dengan
ingatannya ketika kembali ke penginapan. Dia hanya ingat masuk ke kamar dan
kemudian dia ambruk ke tempat tidur tapi ……Saat itu, dia tiba-tiba saja menjadi
sangat mengantuk dan itu adalah sesuatu yang janggal.
—
Lagi pula banyak hal yang terjadi kemarin.
Padahal
dia sama sekali tidak merasakan kelaparan, kelelahan, atau pun kantuk kemarin,
namun nampaknya semua itu mungkin karena perasaan senang dan tegang ketika
datang ke dunia lain.
Sebenarnya,
dia memiliki cukup rasa lelah sehingga jika dia berbaring, dia akan segera
tertidur. khususnya, dia kelelahan setelah dia menggunakan sihir di malam hari
waktu itu. Itu bukan karena damage.
Penyebabnya
adalah dari kelelahan mental. Kemungkinan besar, itu akibat dari konsumsi MP
sihir yang berlebihan.
Itu
apa yang Diablo pikirkan.
Berbeda
dengan game, MP di dunia ini sepertinya tidak dapat dikonfirmasikan dengan
angka, dan ada sedikit sensasi kelelahan yang menumpuk dari penggunaan sihir.
Jika
dia menggunakan semua MPnya, apa yang akan terjadi?
Jika
ini dalam game, dia tidak akan bisa menggunakan sihir, tapi jika itu sesuai
dengan nama dan kekuatan mentalnya, maka dia akan lenyap. Dia merasa tidak
mungkin semuanya akan berakhir dengan semestinya. Menggunakan semua MP sihir
ternyata sangatlah berbahaya.
Dari
sini, dia perlu memikirkan tentang mangatur penggunaan MP lebih dari yang dia
lakukan dalam game. Jika hanya sihir《Explosion》, Diablo memiliki cukup
MP untuk menembakkan hampir seratus dari mereka.
—
Namun, itu hanya dalam game.
—
Berapa banyak kah MP yang aku miliki sekarang?
Karena
dia sadar akan kelelahan yang dia rasakan dari beberapa tembakan, untuk
menembakkannya dekati angka seratus rasanya tidaklah mungkin. Namun,
bagaimanapun juga itu perlu diselidiki.
Selain
itu, mungkin lebih baik untuk tidak menggunakan secara berlebihan sihir tingkat
lanjut dengan ceroboh sebab itu mungkin mengkonsumsi bnyak MP. Sihir dari level
100 ke atas, semuanya memiliki tingkatan kekuatan dan konsumsi yang
berbeda-beda.
—
Well, Begitulah kejadian berjalan tadi malam, sepertinya aku tidak akan
mengalami situasi di mana aku memerlukan sihir semacam itu dalam waktu dekat.
Kenapa
level petualang dunia ini lebih rendah dari pada di game? Ini adalah pertanyaan
yang Diablo lontarkan dari kasusnya Galark. Ini juga sesuatu yang mungkin harus
dia selidiki.
—Aku
masih belum punya cukup informasi.
Untuk
memulai semuanya, dia memutuskan untuk mencoba menanyakan pada Rem dan Shera
tentang keadaannya secara rinci waktu itu.
Kalau
dipikir-pikir, berbagi kamar dengan dua orang gadis dan terlebih lagi hanya ada
satu tempat tidur—situasi semacam itu tidak mungkin terjadi di dunia nyata.
dia
tertidur lelap, kantuknya mungkin terlalu kuat dan saat dia datang, dia
langsung ambruk di tempat tidurnya, tapi ketika dia memikirkan tentang
situasinya, dia merasa sudah melakukan sesuatu yang tidak termaafkan. Dia
penasaran di manakah gadis-gadis itu tidur tadi malam?
–
Well, kalau dipikir-pikir lagi, perbudakan akan dibatalkan kalau aku mati,
bukan? bukankah dia itu sedikit ceroboh? Tidak, kedua gadis itu terlihat
seperti mereka membutuhkan Diablo.
Rem
secara khusus memiliki alasan bahwa dia membutuhkan kepercayaan sebanyak
mungkin. Dan untuk kasusnya Shera, dia mungkin tidak memiliki kepribadian di mana
dia akan membunuh seseorang sewaktu dia sedang tidur.
“Untuk
sekarang, aku pikir aku harus mencari gadis-gadis itu ……”
Diablo
menarik napas. Dan kemudian, saat dia mencoba mengangkat tubuhnya, dia
meletakkan tangannya ke kiri dan kanannya.
* Muni *
*
Monyun *
Ada
sensasi yang lembut tersentuh.
Diablo
terkejut dan meremes-remesnya, itu adalah sentuhan empuk yang bahkan tidak bisa
dia temukan di ranjang dari dunia nyata. Sebaliknya, itu adalah sensasi yang
dimiliki makhluk hidup. Itu hangat saat di pegang.
–
Itu nggak mungkin.
Sebuah
perkembangan yang tidak mungkin kemudian terlintas di benaknya.
“……
Baiklah, te-tenanglah wahai diriku. Lagian ini bukanlah anime atau manga, dan
meskipun aku berbagi kamar dengan dua orang cewek, hanya karena aku tidak
melihat kehadiran mereka, terlalu berlebihan bagiku untuk menyimpulkan hal
semacam itu.”
Dia
mencoba mengkonfirmasinya.
Diablo
membuka matanya dan kemudian melihat.
Di
sebelah sini berbunyi * Muni * adalah – gadis Pantherians yang hanya mengenakan
pakaian hitam dan tipis di tubuhnya, namanya Rem.
Dan
disini lain berbunyi * Monyun * adalah – gadis Elf yang menutupi tubuhnya yang
menggunakan dengan hanya menggunakan jubah longgar, namanya Shera.
Kedua
tangan Diablo memang di atas pakaian. Namun, tangan kanannya memegang oppai Rem
dan tangan kirinya memegang oppai Shera.
Dia
mencoba menahan napasnya.
—
J-jangan bingung a-aku nggak boleh bingung! Seorang Demon King tidak boleh
terlihat kebingungan!
Keringatnya
bercucuran.
Dengan
pikirannya yang kacau-balau di kepalanya, dia entah bagaimana memikirkan
tindakan berikutnya.
Sama
seperti layaknya Demon King, dia hanya harus mengelurkan sikap yang
bermartabat!
–Yosh!!!
Yok pura-pura gak tau dan dengan perlahan-lahan melepaskannya.
Dia
terlalu menyedihkan. Tidak, dia mungkin tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
Meskipun dia disebut Demon King, itu hanya permainan peran saja. Sesuatu
seperti terbangun dan mendapati diri sendiri di antara gadis-gadis nan cantik
yang mereka terlihat seperti CG atau menyentuh oppai gadis-gadis tersebut. Dia
tidak mampu menangani hal-hal semacam itu.
Walaupun
Diablo berada pada level 150 sebagai seorang Magician, tapi dalam skills
pribadinya—Terutama berurusan dengan anak cewek, EXP(experience)-nya adalah 0.
Agar
dia bisa melepaskannya tanpa ketahuan, dia harus memisahkan tangannya dari
oppai kedua gadis itu dengan perlahan. Namun, tangannya itu tidak mau lepas. Sepertinya
mereka terjebak pada oppai-oppai itu. Apa ini semacam lem?
—Jangan-jangan
tangan-tanganku menolak untuk melepaskannya !?
Suhu
dan kelembutan dari kedua gadis itu, dan juga bau harum tubuh mereka. Itu semua
cukup mempesona sehingga itu lebih dari cukup untuk menghancurkan kehendak
hatinya.
Jari-jarinya
bergerak dengan sendirinya. Dia meremas-remas oppai kedua gadis itu. Punya Rem
lembut seperti tampilannya, dan itu merupakan tonjolan yang bagus bahkan saat
menghadap ke atas. Atau mungkin, Mereka dibuat untuk menonjol. Atau mungkin
juga, lebih baik saat Mereka dibusungkan? Rasanya seperti itu. Untuk Shera,
anu-nya itu luar biasa. Jari-jarinya Diablo sampe mentok tenggelam.
Dan
meski tenggelam, sejumlah elastisitas yang hebat memaksa tangannya untuk mundur.
Dia
mulai merasa pusing karena pegas yang luar biasa itu, dan volume yang tidak bisa
sepenuhnya dipegang oleh tangan besarnya.
–
Di dunia ini, apakah hanya kebetulan tidak ada yang memakai pakaian dalam? Atau
apakah mereka melepasnya saat mereka tidur?
Sensasi
langsungnya menakjubkan, dan tidak ada batasan untuk kelembutannya. Satu kain
tipis. Kemungkinan besar, sensasi itu hanya dimiliki oleh sesuatu yang ada di
dalam satu kain tipis itu.
–
Oh sial. Aku ingin tetap menyentuhnya seperti ini untuk selamanya.
Shera
yang sedang tidur mendesah.
“N
…… fu, u ……”
Shera
memutar tubuhnya.
Matanya
kemudian terbuka.
“Nn
…… Huh, Diablo ……?”
*
Sa *, Diablo mencoba melepaskan tangannya. Namun, tangannya masih menolak untuk
dilepaskan. Bahkan dalam situasi macam ini !? Apakah ada jebakan yang disebabkan
oleh sihir yang dilemparkan kepadanya atau semacamnya?
Shera
memiringkan kepalanya saat dia menggosok-gosok matanya.
“Naa
… ..Nnn? Apa ini, rasanya seperti ada yang menekan-nekan……”
Matanya
berpaling ke arah itu. Itu dengan erat meremas-remes oppai bagian kanannya, itu
adalah tangan kiri Diablo. Mata Shera terbuka dan dia menatap ke arah Diablo.
Diablo masih memegang oppainya, dan kemudian dia membuka mulut.
“………………
Ah ~”
Di
saat meraba dada gadis yang sedang tertidur, kemudian gadis itu terbangun – Apa
yang akan Demon King katakan, dia tidak mampu memikirkannya. Shera bingung
untuk sesaat, tapi tampaknya dia mengerti situasinya.
Wajahnya
berubah merah. Setelah itu.
“M-melakukan
hal semacam ini, menurutku bukanlah hal yang baik!”
Karena
malu, dia menatap pada Diablo dengan mata terbalik.
“Ah
…… uu ….”
Dia
tidak bisa melanjutkan permainan perannya sebagai Demon King, dirinya yang asli
bahkan tidak bisa menolongnya. Apalagi dalam situasi seperti ini.
“H-hal
semacam ini tidak baik .ini.., Bagaimana seharusnya aku katakannya ya……Hal
semacam ini seharusnya dilakukan setelah kita akrab, atau lebih tepatnya …… Umm
…… S-selama kamu tidak memilihku sebagai mastermu, Hal itu sama sekali tidak
diijinkan, mengerti !?.”
“Uu
……?”
Kedengarannya
itu seperti “Jika kamu memilih aku sebagai mastermu, maka aku dengan senang
hati mengizinkannya” Seperti itulah.
“Bagaimanapun
juga, kamu tidak boleh! , kamu tidak boleh! Karena kamu tidak boleh! Itu tidak
diperbolehkan lagi!.”
“……
Ah, ya.”
“K-karena
kamu sudah melakukannya, selanjutnya kamu tidak boleh melakukannya lagi, kamu
paham?”
Shera
menarik tubuhnya dan tangan Diablo akhirnya bisa lepas, meski rasanya enggan
untuk lepas dari sensasi senyaman itu.
Dia
bersyukur dalam hatinya bahwa Shera telah memaafkannya.
Seperti
saat sebelumnya, dia masih tidak dapat kembali memainkan peran Demon King-nya,
dan dia tidak bisa mengeluarkan kata-kata apapun.
Di
sebelah kanan Diablo, Rem mengusap matanya.
……
Nya …… Nn? Ada apa ini, pagi-pagi dah ribut-ribut begini?”
“Uu.”
“……
Nn? Entah kenapa, rasanya berat di sekitar …… dadaku?”
Dia
lupa.
Tangan
kirinya sedang memegang oppai Shera, dan dia baru saja melepaskannya. tapi – Tangan
kanannya masih memegang oppai Rem.
Diablo
ketakutan. Dia cukup ketakutan bahkan jika sihir dari kelas tertinggi
dilemparkan kepadanya, hal itu tidak akan membuatnya ketakutan sampai sejauh
ini.
Rem
mengalihkan pandangannya ke dadanya sendiri.
“……”
Dia
melihat tangan Diabo yang sedang memegang oppainya, dan lalu dia menatap wajah
Diablo. Dia kembali mengulanginya sekali lagi. “Aku tidak percaya ini” itu
adalah ekspresi yang dia terlihat padanya.
Diablo
perlu mengatakan sesuatu.
Seperti
layaknya Demon King yang memiliki martabat, dia tidak perlu gugup! Itu benar,
tidak perlu gugup!
Diablo
membuka mulutnya.
“Rem,
kamu harus menegakkan dadamu dengan penuh percaya diri. Walau hanya nampak
sedikit tonjolan, itu sangat berharga loh.”
—Apa
sih yang aku katakan?
Di
pagi hari dalam penginapan itu, jeritan Rem yang keras bergema.

No comments:
Post a Comment
Berkomentarlah dengan Sopan