Chapter 4 - Meski begitu, kelas tetap berjalan seperti biasanya
Suara
bel ini memberitahukan kalau jam pelajaran keempat sudah berakhir, mengirimkan
semacam gelombang perasaan lega ke seluruh penjuru kelas. Ada beberapa orang
yang lari keluar kelas untuk membeli makan siang, ada juga yang mengambil kotak
makan siang mereka yang mereka taruh di bawah meja, dan sisanya hanya mengobrol
saja di kelas.
Seperti
biasa, siswa kelas 2F mulai larut dalam suasana jam makan siang.
Karena
saat ini sedang turun hujan, jadi aku tidak punya tempat untuk pergi. Biasanya
aku punya tempat sempurna untuk makan siang, tapi aku tidak berminat untuk
berbasah-basahan ketika makan siang.
Sebenarnya
aku ingin sekali menghabiskan suasana istirahat siang yang diiringi hujan ini
dengan membaca novel atau manga atau sejenis itu, tapi aku meninggalkan
buku-buku yang sedang ingin kubaca itu di rumah. Mungkin aku harusnya pergi
saja mengambilnya di jam istirahat ini...
Tapi
kalau melihat waktunya, kereta untuk ke rumahku harusnya sudah lama pergi.
Kurasa istilah Jepang untuk keadaan itu adalah ‘ato no matsuri’. Dalam bahasa
Inggris berarti ‘after the festival’...Bukan, bukan, itu harusnya ‘matsuri no
ato’.
Yeah,
aku sangat bosan sekali sehingga aku bercanda dengan diriku sendiri dengan
berperan sebagai 2 orang yang berbeda.
Serius
ini, aku sempat berpikir...Ketika kau menghabiskan waktu sendirian, tiba-tiba
hal semacam ini terjadi begitu saja.
Jika
kau sendirian di rumah, kau mulai lebih sering berbicara kepada dirimu sendiri.
Lalu kau akan mulai bernyanyi sendiri dengan suara yang keras. Lalu kemudian
adik perempuanmu pulang ke rumah dan kau akan berkata, ‘MOTTO! MOTT-ahh...Halo
yang disana’. Tapi aku tidak mau bernyanyi di kelas.
Hasilnya,
aku berpikir tentang banyak hal.
Secara
logika, penyendiri adalah ahli dalam berpikir. Ada orang bilang kalau manusia
itu adalah hewan yang rapuh, meski begitu manusia adalah hewan yang berpikir,
dan ketika kau menyadari itu, tiba-tiba kau akan memikirkan sesuatu. Karena
penyendiri tidak punya seorangpun untuk berbagi apa yang ada di pikirannya,
mereka bisa memikirkan banyak hal lebih dalam daripada yang lain. Dengan begitu,
penyendiri sepertiku punya semacam sirkuit di otak yang membuatku bisa berpikir
berbeda seperti orang normal, dan ini kadang memberikan kami kemampuan untuk
mendapatkan ide diluar kemampuan manusia normal.
Sangat
sulit untuk mencoba dan menunjukkan sejumlah informasi yang ada di dunia ini
dengan sebuah ceramah saja. Ini seperti komputer. Butuh waktu untuk mengupload
banyaknya data ke server atau mengirim itu memakai email. Itulah mengapa para
penyendiri cenderung tidak punya skill berbicara yang baik.
Tapi
kupikir ini bukanlah hal yang buruk. Komputer itu ada tidak hanya demi email,
ada juga internet dan photo-show juga. Jadi jangan sekali berpikir kalau satu
sudut pandang saja cukup untuk menilai seseorang.
Well,
aku memakai komputer sebagai contoh bukan berarti aku sangat tahu betul
mengenai komputer...Jika kau ingin orang yang tahu banyak soal komputer maju ke
depan kelas, maka kau akan melihat banyak sekali siswa yang berdiri disana.
Diantara
orang itu ada yang memegang PSP dan melakukan permainan Ad-Hoc dengan mode
wireless. Siapa sih nama mereka? Oda...atau Tahara...Sesuatu seperti itu?
“Hei
kamu, pakai palu atau semacamnya!”
“Nah,
gunlace saja sudah lebih dari cukup^^.”
Mereka
terlihat seperti sedang bersenang-senang...Aku memang memainkan permainan yang
sama dengan mereka, tapi kalau boleh jujur, ada bagian dari diriku ini yang
ingin pergi dan bergabung dengan mereka.
Dulu,
sesuatu seperti manga, anime, dan game adalah bidang yang didominasi oleh para
penyendiri. Belakangan ini, mereka menjadi semacam cara untuk berkomunikasi,
dan bergabung bersama orang lain seperti itu butuh kemampuan komunikasi.
Sayangnya,
aku ini terlihat seperti orang yang setengah-setengah dalam segalanya, jadi
jika aku hendak bergabung dengan mereka, maka mereka akan memangilku cupu atau
sok jago ketika aku tidak mendengarkan mereka. Jadi apa yang harus kulakukan?
Ketika
SMP dulu, aku melihat beberapa orang membicarakan soal anime, dan aku ingin
bergabung dengan obrolan mereka. Tapi ketika mereka melihatku datang dan
bergabung, mereka semua terdiam. Itu benar-benar berat bagiku...Itu adalah
momen dimana aku sudah tidak mau lagi bergabung dengan keramaian.
Dan
aku ini bukanlah orang yang suka meminta orang untuk mengajakku ikut serta,
jadi ini hanya memperburuk saja. Ketika kami bermain sepakbola atau baseball di
pelajaran olahraga, dua anak laki-laki yang terpopuler akan hom pim pa untuk
menentukan siapa yang melakukan lebih dulu. Dan aku adalah orang terakhir, tahu
tidak? Ketika aku mengingat kembali diriku yang berusia 10 tahun itu, yang
kuingat hanyalah betapa menyedihkan dan gugupnya diriku ketika mereka mulai
memilih teman satu tim mereka...Itu hampir membuatku menangis, serius ini.
Bukannya
aku punya fisik yang tidak bagus, tapi itulah alasan aku menjadi buruk sekali
dengan olahraga. Aku suka baseball, tapi tidak ada yang mau bermain
denganku...Jadi ketika aku masih kecil, aku hanya melempar-lempar bolanya ke
tembok dan bermain sendirian. Aku sangat terbiasa bermain baseball sendirian; aku berimajinasi kalau ada
orang-orang di lapangan atau area memukul bola.
Tapi
ada juga orang-orang di kelas ini yang bagus dalam skill komunikasi.
Misalnya,
orang-orang yang ada di belakang kelas ini.
Ada
dua siswa yang berasal dari klub sepakbola, tiga dari klub basket, dan tiga
gadis. Sekali kau melihat suasana yang hidup dari grup itu saja sudah cukup
untuk memberitahumu kalau mereka itu berada dalam kasta teratas di kelas ini.
Ngomong-ngomong, Yuigahama juga bagian dari grup itu.
Dan
dalam grup itu, ada dua orang yang bersinar sangat cerah dari yang lain:
Hayama
Hayato.
Itu
adalah nama orang yang berada di tengah grup itu. Dia pemain andalan klub
sepakbola, dan juga kandidat ketua klub di semester depan. Dia bukanlah orang
yang bisa kulihat dengan nyaman dalam jangka waktu tertentu.
Sederhananya,
dia tampan, dan pura-pura bergaya keren. Mati aja lo!
“Nah,
aku tidak bisa hari ini. Aku ada latihan.”
“Bisakah
kau libur saja untuk sehari? Ada paket murah hari ini untuk dua sendok es krim
Baskin Robbins~~. Aku ingin rasa Coklat Kakao yang double scoop.”
“Bukannya
kakao dan coklat itu sama-sama coklat? (haha)”
“Ehhh?
Tidak, mereka berbeda! Lagipula, aku benar-benar lapar saat ini.”
Orang
yang sedang berbicara tadi adalah teman Hayama, Miura Yumiko.
Rambut
pirangnya memiliki model melingkar, dan kalau kau lihat cara dia memakai
seragam sekolahnya yang memperlihatkan dengan jelas bagaimana bahunya, kau
pasti berpikir kalau dia memang sengaja memperlihatkan itu. Apa dia PSK atau
semacamnya? Roknya juga terlalu pendek hingga sulit kukatakan apa dia memakai
rok atau tidak.
Tubuhnya
bagus dan punya wajah cantik, tapi sikapnya yang bodoh dan penampilan yang
mencolok itu membuatku tidak menyukainya. Atau, lebih tepatnya, aku takut
dengannya. Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan dia katakan kepadamu.
Tapi
(setidaknya dari apa yang kulihat) Hayama tidak terlihat takut ke Miura, bahkan
dia melihat Miura sebagai orang yang menyenangkan untuk diajak bicara. Oleh
karena itu aku tidak mengerti bagaimana cara berpikir dari Raja dan Ratu yang
ada di kasta teratas itu. Tidak peduli bagaimana kau melihat itu, gadis itu
hanya terlihat sebagai ‘orang yang menyenangkan’ ketika berbicara dengan
Hayama. Kalau aku yang berbicara dengannya, dia akan langsung menghabisiku
dengan sekali tatapan.
Well,
begitulah, kami berdua tidak punya alasan untuk mengobrol, jadi kurasa ini akan
baik-baik saja.
Sementara
itu, Hayama dan Miura masih terlihat sedang becanda satu sama lain.
“Maaf
ya, kurasa aku tidak ikut untuk hari ini.”
Hayama
mengatakan itu; dia tampaknya harus menghadiri latihan. Miura melihatnya dengan
tatapan kosong. Lalu Hayama mengumumkan sesuatu dengan senyum lebar di
wajahnya.
“Tahun
ini kami mengincar Kokuritsu!”
Huh?
Kokuritsu, bukan Kunitachi? Jadi dia tidak sedang membicarakan Kunitachi,
daerah bagian Tokyo yang bisa didatangi dengan menumpang kereta Chuuou, tapi
yang dia maksud Kokuritsu? Apa itu maksudnya turnamen nasional?
“Bwaha...”
Aku
bisa mendengar suara tawa dari dalam diriku. Melihatnya bersikap bangga seperti
itu, berpura-pura apa yang dikatakannya keren, serius ini
seperti...seperti...Aku tidak bisa membahasnya lebih jauh. Ini sangat buruk.
“Tapi,
Yumiko. Kalau kau makan terlalu banyak, nantinya kau akan menyesal.”
“Tahu
tidak, aku tidak pernah gemuk, tidak peduli seberapa banyak yang kumakan. Ahh,
kurasa aku harus pergi makan yang banyak hari ini. Benar tidak, Yui?”
“Ahh,
yeah, Yumiko pastinya punya selera yang bagus...Tapi aku sudah ada rencana
sebentar lagi, jadi aku harus...”
“Benar,
kan? Hari ini aku ingin makan yang sangat banyak!”
Ketika
Miura mengatakannya, orang-orang di sekitarnya tertawa. Terdengar hampa,
seperti suara tawa rekaman yang biasa kau dengar di acara komedi televisi.
Tawanya keras, itu saja; aku bahkan hampir bisa melihat tulisan untuk
subtitlenya di bawah layar.
Aku
bukannya mau menguping pembicaraan mereka atau sejenisnya, tapi suara mereka
sangat keras sehingga terdengar di telingaku begitu saja. Sekarang aku ingat,
otaku atau riajuu yang bergabung dengan suatu grup selalu ramai. Aku ini sedang
duduk di tengah ruangan tanpa seorangpun yang ada di sebelahku, tapi semua
orang terlihat bersuara sangat keras...Aku seperti menjadi mata dari badai.
Hayama
tersenyum ceria. Senyumnya itu seperti menegaskan kalau dia adalah pusat
perhatian, dicintai oleh semuanya.
“Cuma
mau mengingatkan: jangan makan banyak-banyak atau perutmu bisa meledak.”
“Seperti,
kataku. Tidak peduli berapa banyak yang kumakan, aku akan baik-baik saja! Aku
tidak akan gemuk. Benar tidak, Yui?”
“Ahhh,
Yumiko sangat luar biasa. Kakimu juga indah sekali. Tapi serius nih, aku
harus...”
“Ehh,
benarkah? Tapi gadis yang bernama Yukinoshita itu juga punya kaki yang bagus
juga, benar tidak?”
“Ah, itu benar. Kaki Yukinon juga indah...”
“.....”
“...Ah,
tapi, maksudku, punya Yumiko pasti yang terbaik!”
Ketika
Miura mengerutkan alisnya, Yuigahama dengan cepat berusaha menyelamatkan
dirinya. Apa-apaan ini...Ini seperti melihat drama Ratu dengan pembantunya.
Meski begitu, tampaknya kata-kata tambahan Yuigahama tadi tidak cukup untuk
mengembalikan suasana hati Sang Ratu. Tatapan mata Miura terlihat menajam, dia
tampak tidak senang.
“Well,
sebenarnya, kurasa sekali-kali tidak apa-apa...Ini hanya latihan biasa, aku
bisa menemanimu pergi.”
Hayama
mungkin merasakan tekanan suasananya, karena itulah dia dengan cepat
menenangkan suasana itu.
Sang
Ratu tampak tersenyum.
“Oke
kalau begitu, SMS saja kalau kau siap!”
Yuigahama
memegangi dadanya seperti merasa lega.
Ya
ampun, adegan tadi tampaknya parah sekali...Kita ini seperti kembali ke jaman
pertengahan atau semacamnya? Kalau ingin punya kehidupan sosial yang bagus
harus berusaha sekeras itu, maka aku akan memilih untuk menjadi penyendiri
saja, terima kasih banyak.
Kemudian,
Yuigahama menoleh ke arahku dan menatapku. Dia melihat ke arahku seperti hendak
meyakinkan sesuatu. Dia lalu menarik napas yang dalam.
“Umm,
aku...akan pergi keluar untuk makan siang, jadi...”
“Oh,
benarkah? Kalau begitu jangan lupa untuk membelikanku sesuatu ketika kembali
nanti...tahu tidak, lemon tea yang itu? Aku lupa membawa minum hari ini. Dan
juga, makan siangku roti hari ini, jadi akan sangat berat sekali jika aku tidak
minum teh, benar tidak?”
“A-Ah,
ta-tapi mungkin aku baru kembali ketika bel jam kelima berbunyi, itu ketika
istirahat siang selesai, dan, umm..tahu tidak...”
Ketika
Yuigahama mengatakan itu, wajah Miura berubah menjadi serius.
Miura
seperti sehabis digigit oleh salah satu hewan peliharaannya. Yuigahama mungkin
belum pernah membalas perkataan Miura seperti itu, dan sekarang, dari seluruh
hari yang ada, dia tidak mau melakukan apa yang Miura inginkan darinya.
“Huh?
Tunggu, tunggu, ada apa ini? Tahu tidak, Yui, kau belakangan ini jarang
mengobrol lama-lama setelah pulang sekolah? Apa cuma aku, atau memang kau
belakangan ini jarang berkumpul dengan kita?”
“Ah,
well, tahulah, umm, ini aku hanya ada beberapa urusan, dan, umm, ini hanya
urusan pribadi, dan aku benar-benar minta maaf, tapi, umm...”
Yuigahama
tampak malu untuk mengatakannya, tapi dia meresponnya dengan segala yang dia
bisa. Apa-apaan ini...Dia ini seperti karyawan kantor yang sedang dimarahi oleh
bossnya apa semacamnya?
Tapi,
respon Yuigahama itu memiliki efek yang terbalik. Miura mulai mengetuk meja
dengan kukunya, seperti terganggu.
Ledakan
emosi Ratu mereka membuat seluruh kelas terdiam. Bahkan Oda dan Tahara (atau
entah siapa namanya) langsung mengecilkan suara PSP-nya. Hayama dan grupnya
yang berada di sampingnya tiba-tiba menatap ke arah lantai dan terdiam.
Satu-satunya
suara yang bergema di ruangan ini adalah suara dari ketukan kuku Miura ke
mejanya.
“Well,
bukankah harusnya aku tahu ada apa ini? Kalau kau ingin mengatakan sesuatu,
maka katakan saja. Kita kan teman, benar tidak? Menyembunyikan sesuatu dari
teman, tahu tidak...Itu tidak bagus, benar?”
Yuigahama
tiba-tiba menatap ke arah lantai.
Awalnya,
kata-kata Miura terdengar sopan dan normal. Bahkan, kata-katanya itu seperti
meneguhkan pertemanan diantara dirinya dan Yuigahama.
Mereka
teman, satu grup, jadi mereka akan berbagi apapun satu-sama lain, itulah kata
Miura. Tapi kata-katanya itu juga bisa dimaknai berbeda: “Dan jika kau tidak
memberitahuku, maka kita bukan teman. Bahkan, kita adalah musuh.” Itulah yang
kubaca dari laporan penyelidikan berbahasa spanyol ini.
“Maafkan
aku...”
Yuigahama
meminta maaf; dia masih melihat ke arah lantai.
“Bukan,
bukan, bukan, bukan itu yang ingin kudengar. Tadi kau ingin mengatakan sesuatu
kepadaku, benar tidak?”
Tidak
ada seorangpun di dunia ini yang bisa mengatakan sesuatu ketika dihadapkan
situasi seperti itu. Miura tidak hendak membuat sebuah percakapan, dan Miura
tidak sedang bertanya. Dia hanya ingin membuat Yuigahama meminta maaf sehingga
dia bisa menyerangnya.
Ini
sangat bodoh sekali...Kalau kalian berdua ingin saling bunuh, setidaknya
lakukan di tempat lain.
Akupun
menoleh ke depan. Lalu aku mulai memakan rotiku sambil bermain HP. Aku kunyah
secara perlahan dan meminum minumanku. Tapi entah mengapa...Seperti ada yang
menyangkut di tenggorokanku, dan ini bukanlah rotinya.
...Apa
itu sebenarnya?
Makanan
harusnya menjadi hal yang menggembirakan. Seperti pria di The Lonely Gourmet.
Jangan
salah paham: Aku tidak ada minat untuk membantu gadis itu, sedikitpun. Hanya
saja ketika di dekatmu ada gadis yang akan menangis, ini membuat perutku merasa
tidak enak; selera makan hilang entah kemana. Dan aku benar-benar ingin menikmati
makananku ini...
Plus,
menjadi orang yang diserang itu adalah keahlianku. Aku tidak bisa menyerahkan
gelar kehormatanku itu menjadi milik orang lain dengan mudahnya.
Ah,
dan ada satu hal lagi:
...Aku
benar-benar tidak suka wanita jalang itu.
Mejaku
bergetar ketika aku tiba-tiba berdiri dari kursiku.
“Hei,
kalian...”
“Kau
diam saja!”
Kalian
berhentilah ribut. Itu yang ingin kukatakan, tapi sebelum aku mengatakannya,
Miura mengirimkan tatapan iblisnya kepadaku.
“...Ka-Kalian
tahu kapan hujan ini akan berhenti? A-Aku harusnya membawa payung, hahaha...”
Ya
Tuhan! Gadis ini anaconda apa semacamnya? Membuatku ingin meminta maaf saja.
Akupun
turun, ditolak, dan duduk kembali. Miura tampaknya langsung melupakan
eksistensiku; dia melihat ke arah Yuigahama yang sudah terlihat seperti babak
belur.
“Tahu
tidak, aku ini mengatakan ini demi Yui, tapi...Sikapmu yang diam-diam itu
membuatku tidak nyaman.”
Dia
mulai mengatakan kalau ini demi kebaikan Yuigahama, tapi ditutup dengan
pendapat yang mengatakan perasaan Miura. Dia mengkontradiksikan dirinya sendiri
dalam satu baris kalimat. Tapi Miura tidak berpikir kalau itu kontradiksi, dia
adalah ratu dalam grup, dan dalam sistem feodal, pemimpin memiliki kekuatan
absolut.
“...Maaf.”
“Itu
lagi?”
Miura
mengatakan ‘hmmph’ yang mengandung emosi bercampur kesal. Suara itu saja sudah
cukup untuk membuat Yuigahama tenggelam lebih jauh.
Sudah
jangan diteruskan lagi, ya ampun...Pertimbangkanlah perasaan para penonton yang
terpaksa melihat adegan ini. Aku tidak tahan dengan tekanan suasananya...Jangan
bawa-bawa penonton terlibat dalam drama kalian berdua, kalian berlebihan.
Sekali
lagi, aku mengumpulkan keberanian yang tersisa dariku. Maksudku, mereka
mustahil membenciku lebih dari ini...Aku bisa saja masuk ke pertempuran ini
dengan perasaan nothing to lose, jadi ini bukanlah hal yang buruk untukku.
Aku
lalu berdiri kembali dan menatap ke arah mereka, Yuigahama lalu melihat ke
arahku dengan mata yang mulai meneteskan air mata. Dan, seperti menunggu momen
yang tepat, Miura mengatakan sesuatu dengan nada yang dingin.
“Hei,
Yui, kau melihat kemana? Tahu tidak, kau ini hanya meminta maaf kepadaku saja
dari tadi...”
“Dia
itu bukanlah satu-satunya orang dimana kau harus meminta maaf, Yuigahama-san.”
♦ ♦ ♦
Suara
yang menggema di ruangan ini bahkan lebih dingin, lebih kejam, daripada suara
Miura. Semua orang yang mendengarkannya terlihat ketakutan. Suara itu seperti
tiupan angin dari kutub utara, tapi suara itu juga secantik aurora.
Dia
berdiri di ujung ruangan kelas ini, di depan pintu, dan dia langsung menyedot
perhatian banyak orang, seperti berada di pusat dunia.
Dari
semua orang yang hidup di planet ini, hanya suara dari Yukinoshita Yukino yang
bisa seperti itu.
Aku
tiba-tiba terdiam, dan diriku ini berada dalam posisi separuh berdiri.
Dibandingkan dengan itu, usaha terakhir dari Miura tadi yang berusaha
mengintimidasi Yuigahama terdengar seperti permainan anak kecil. Lagipula,
ketika Yukinoshita menjadi lawanmu, kau tidak akan punya peluang untuk bisa
merasa takut. Itu adalah sesuatu yang jauh diluar rasa takut dimana
satu-satunya kesan yang tertinggalkan pada dirimu hanyalah sebuah keindahan.
Semua
orang di kelas ini menjadi terpesona oleh Yukinoshita. Bahkan suara ketukan
kuku Miura di meja menghilang, dan ruangan kelas ini menjadi sunyi. Tapi suara
Yukinoshita segera menghancurkan kesunyian itu.
“Yuigahama-san...Kau
ini luar biasa sekali. Kau bilang kepadaku untuk menunggumu, tapi kau tidak
muncul juga hingga lewat waktu yang dijanjikan. Bukankah akan lebih baik jika
kau mengirimiku SMS kalau kau akan terlambat?”
Ketika
Yuigahama mendengarnya, dia tersenyum, seperti merasa lega. Dia mulai
membalikkan badannya ke arah Yukinoshita.
“...Ma-Maaf.
Tapi, umm, aku kan belum tahu nomormu...”
“...Begitu
ya? Kurasa itu ada benarnya...Kalau begitu, aku tidak mau mengatakan kalau
kaulah yang
Yukinoshita
tampaknya tidak mempedulikan orang-orang di sekitarnya, dia terus mengatakan
apa yang dia ingin katakan. Sangat menyenangkan melihat dia melanjutkan begitu
saja kata-katanya tanpa mengurangi temponya.
“Tu-Tunggu
dulu! Kami ini masih sedang berbicara!”
Tampaknya
Miura baru saja terbebaskan dari status paralisis, dan dia mulai memotong
Yukinoshita dan Yuigahama.
Api
amarah dari Sang Ratu muncul, dan apinya mulai menjadi semakin panas.
“Ada
apa? Aku tidak punya waktu untuk berdiri disini dan meladenimu berbicara...Aku
belum memakan makan siangku.”
“H-Hh?
Kau tiba-tiba muncul dan mengatakan itu? Akulah yang sedang berbicara dengan
Yui disini!”
“Berbicara
dengannya? Bukankah yang kau lakukan hanya berteriak-teriak saja kepadanya?
Ataukah itu yang kau sebut dengan ‘pembicaraan’? Bagiku, kau itu terlihat
seperti berusaha membuatnya berada dalam posisi yang tidak diuntungkan lalu
memaksakan pendapatmu kepadanya.”
“A-Apa?!?!”
“Maafkan
aku karena tidak menyadari ini lebih cepat...Kuakui kalau aku tidak begitu tahu
dengan cara hidupmu, jadi aku tiba-tiba melihat kejadian itu seperti melihat
cara para bangsa monyet untuk menunjukkan dominasinya.”
Bahkan
Sang Ratu Api bisa menjadi beku ketika berhadapan dengan Sang Ratu Es.
“Oooo...”
Miura
menatap ke Yukinoshita, emosinya jelas sekali. Tapi, Yukinoshita membuat
tatapan tajam Miura itu lewat begitu saja.
“Kau
bisa berteriak-teriak sambil menepuk-nepuk dada sesukamu, dan kau juga bisa
bersikap seperti dirimu adalah Raja dari sebuah kerajaan, tapi tolong lakukan
itu di tempat pribadi dan waktu tertentu. Kalau tidak, aktingmu itu bisa
luntur, persis seperti make-upmu saat ini.”
“...Huh,
apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti.”
Miura
terlihat seperti orang yang kalah, akhirnya dia duduk dan menyandar ke
kursinya. Rambut pirang melingkarnya melambai ke samping ketika dia mulai
menekan-nekan tombol HP-nya dengan emosi.
Setelah
itu, tidak ada satupun orang yang berani berbicara ke dia. Bahkan Hayama, yang
biasanya bisa mencairkan suasana seperti ini, tidak bisa mengucapkan apapun
untuk mencairkan suasananya.
Dan
di sampingnya ada Yuigahama, yang hanya diam berdiri. Dia hanya meremas-remas
roknya, seperti hendak mengatakan sesuatu. Yukinoshita mungkin sudah bisa
menebak apa yang akan Yuigahama katakan, karena itulah dia mulai berjalan
keluar ruangan.
“Aku
akan pergi dulu.”
“A-Aku
akan menyusulmu...”
“...Terserah
kamu.”
“Oke.”
Ketika
Yuigahama mendengarnya, dia tersenyum, tapi...Dia adalah satu-satunya orang di
ruangan ini yang tersenyum.
Hei,
hei, apa-apaan dengan suasana ini...Situasinya sangat tidak nyaman, bahkan
sangat sulit untuk tetap tinggal di kelas. Tanpa sadar, lebih dari separuh
siswa di kelas ini mulai meninggalkan ruangan ini, mengatakan mereka haus atau
ingin pergi ke toilet. Yang tersisa di kelas ini, selain grup Hayama dan Miura,
adalah orang-orang yang penasaran dengan ending drama ini.
Kurasa
aku harus mengambil peluang ini dan berselancar keluar dari pintu! Tapi, serius
ini...Jika suasananya lebih suram dari ini, aku bisa menderita dan mati.
Aku
mulai berjalan, sesenyap mungkin, menuju pintu, melewati Yuigahama. Ketika
hendak melewatinya, aku mendengar suara bisikannya.
“Terima
kasih tadi sudah mau berdiri.”
♦ ♦ ♦
Ketika
aku keluar dari kelas, aku melihat Yukinoshita disana. Dia sedang menyandar ke
tembok di dekat pintu dengan menyilangkan tangannya dan menutup matanya. Dia
menebarkan aura yang sangat dingin, dan mungkin itu alasannya aku tidak melihat
satupun orang di sekitarnya. Suasana lorong ini sangat sunyi.
Karena
itulah aku bisa mendengar pembicaraan yang terjadi di dalam kelas.
“...Umm,
maaf. Tahu tidak, aku merasa tidak enak kalau aku tidak bisa akrab dengan seseorang...Kau
bisa katakan kalau aku sedikit kelewatan tadi...Mungkin karena itulah kau
merasa terganggu.”
“.....”
“Uhhh,
well, bagaimana ya? Aku memang seperti itu. Bahkan ketika aku bermain ‘pura-pura
menjadi Ojamajo’ dengan teman-temanku, aku ingin menjadi Doremi atau Onpu-chan,
tapi jika ada gadis lain ingin menjadi mereka, maka aku memilih untuk menjadi
Hazuki...Aku tumbuh besar di kompleks apartemen dan dikelilingi orang-orang di
sekitarku, mungkin karena itulah aku pikir itu adalah cara yang terbaik...”
“Aku
tidak tahu apa yang hendak kau katakan.”
“Y-Yeah,
kurasa begitu, haha. Well, aku juga tidak tahu apa yang aku katakan
tadi...Hanya saja, umm, ketika aku melihat Hikki dan Yukinon, aku menyadari
sesuatu. Bahkan ketika tidak ada satupun orang di sekitarmu, mereka terlihat
sedang bersenang-senang...Mereka berdua mengatakan apa yang ada di pikiran
mereka, dan meski mereka ini sebenarnya tidak akrab dengan orang, aku melihat
mereka terlihat seperti terhubung oleh sesuatu...”
Kata-kata
yang kudengar itu, sesekali diselingi suara tangisan dari dalam ruangan. Setiap
kali itu terjadi, aku bisa melihat kalau bahu dari Yukinoshita seperti
bergetar. Dia membuka matanya lebar-lebar dan berusaha melihat ke dalam kelas
tanpa menolehkan kepalanya. Dasar idiot, kau tidak akan bisa melihat apapun
dari sana. Kalau kau khawatir, masuk ke dalam saja. Gadis ini...Dia kurang
jujur dengan dirinya.
“Setelah
melihat itu, aku mulai berpikir mungkin aku yang selama ini berusaha agar bisa
akrab dengan semua orang merupakan tindakan yang salah...Maksudku, sejujurnya,
Hikki itu ya Hikki. Kalau ada waktu luang dia menyendiri dan membaca buku
sambil tertawa terkekeh-kekeh...Itu menjijikkan, tapi dia tampaknya sedang
bersenang-senang.”
Menjijikkan
katanya...Setelah mendengarkan itu, Yukinoshita tertawa kecil.
“Aku
awalnya berpikir kalau kebiasaan anehmu itu hanya ketika di klub saja, tapi
tampaknya kau melakukan kebiasaan itu di kelas juga. Kebiasaanmu itu sangat menjijikkan, kau harusnya menghentikan itu.”
“Kalau
kau tahu dari dulu, kau harusnya memberitahuku sejak awal...”
“Tapi
itu membuatku terlihat normal karena aku tidak melakukan seperti itu. Lagipula,
siapa yang mau memberitahumu setelah kau melakukan hal yang menjijikkan seperti
itu?”
Aku
bersumpah akan lebih hati-hati dari sekarang. Aku tidak akan membaca satupun
Light Novel tentang Dewa yang jahat di sekolah.
“Jadi
kupikir, mungkin aku harusnya tidak melakukan ini terlalu keras, aku ingin
melakukan ini dengan santai...Atau sejenis itu. tapi bukannya aku membenci
Yumiko atau semacamnya. Kita masih berteman...bersahabat...setelah ini, benar
tidak?”
“...Hmph.
Begitu ya. Ya sudah, terserah kamu. Kurasa itu tidak masalah.”
Aku
mendengar suara Miura yang menutup HP-nya.
“...Sekali
lagi, maaf ya. Terima kasih.”
Dengan
begitu, percakapan di ruangan terhenti, dan aku mendengar suara langkah sepatu
Yuigahama ke arah pintu. Mendengar itu sebagai sebuah sinyal, Yukinoshita juga
menegakkan posisi tubuhnya dari yang sebelumnya bersandar di tembok.
“...Well,
ternyata dia bisa melakukannya sendiri.”
Untuk
sejenak, aku seperti terhipnotis oleh senyum yang ada di wajah Yukinoshita.
Itu
adalah sebuah senyuman, senyum yang sederhana, senyum yang tulus, dan tidak ada
satupun rasa sinis atau sarkasme ataupun kebencian.
Tapi,
tidak lama kemudian senyum itu menghilang, dan ekspresi Yukinoshita kembali ke
dirinya yang biasa, beku seperti es. Sementara aku terdiam melihat senyuman
Yukinoshita itu, dia dengan cepat berjalan ke ujung lorong dan menghilang,
tanpa pamit atau sejenisnya kepadaku. Dia mungkin bergegas ke tempat pertemuan
dimana dirinya dan Yuigahama telah sepakat sebelumnya.
...Well,
apa yang harus kulakukan? Aku mulai berjalan pergi, tapi tepat ketika aku mulai
berjalan, pintu kelas terbuka.
“Eh?
Ke-Kenapa Hikki berdiri disini?”
Aku
hanya bisa terdiam, tapi aku hanya bisa mengangkat lengan kananku dan
menyapanya, berharap aku bisa lolos dari situasi ini. Setelah kulihat, wajahnya
mulai memerah.
“Apa
kau mendengarnya?”
“A-Apa
maksudmu dengan mendengar...?”
“Kau
pasti mencuri dengar, ya? Wajahmu berkeringat?! Menjijikan! Stalker! Orang
aneh! Um umm...Menjijikkan! Aku tidak percaya kamu! Kau benar-benar
menjijikkan. Kau benar-benar sangat menjijikkan!”
“Hei
tunggu dulu! Tahan dirimu!
Maksudku,
aku ini bisa sedih jika kau melemparkan banyak sekali cacian tepat di depan
wajahku. Dan jangan mengatakan bagian terakhir tadi dengan ekspresi yang sangat
serius, sialan...Aku merasa diriku benar-benar terluka saat ini.
“Hmph,
sudah telat bagiku untuk berhenti. Dan kau pikir salah siapa tadi? Idiot.”
Yuigahama
menunjukkan lidahnya yang berwarna pink untuk mengejekku, setelah melakukan
aksi provokasi imut tadi, dia berlari meninggalkanku. Apa dia anak SD apa
semacamnya? Jangan lari-lari di lorong, sialan.
“Salah
siapa...Ya salah Yukinoshita, benar tidak?”
Aku
berbicara ke diriku sendiri. Aku sendirian, jadi kurasa itu normal.
Ketika
kulihat ke arah jam dinding, waktu istirahat siang ini hanya tersisa sedikit.
Yang tersisa dari jam makan siang ini, hanyalah rasa hausku. Mungkin aku
harusnya beli minuman ion agar rasa haus di tenggorokan dan hatiku ini hilang.
Sambil
berjalan ke mesin penjual minuman, aku menyadari sesuatu.
Otaku
saja punya komunitas, jadi mereka tidaklah sendirian.
Dan
menjadi riajuu berarti berarti kau harus menaruh perhatian lebih kepada aturan
dan keseimbangan, jadi ini benar-benar berat.
Jadi
pada akhirnya, akulah satu-satunya orang yang sendirian. Aku tidak butuh
Hiratsuka-sensei untuk mengisolasiku, karena aku sudah terisolasi dari
kelasku...Jadi tidak ada gunanya mengisolasiku di klub relawan.
...Kesimpulan
yang sangat menyedihkan. Kenyataan memang sangat kejam.
Satu-satunya
hal manis yang terjadi di hidupku adalah rasa dari minuman ion ini.
Oregairu Volume 1 Chapter 4 Selesai

No comments:
Post a Comment
Berkomentarlah dengan Sopan