Savior of the Nation
Part 4
Golka
dibakar dengan pasukan lain yang lebih lemah darinya.
Golka
menyadari sesuatu.
Dimata
moster itu, Golka tidak berbeda dengan penduduk sipil disekitarnya
Jika
saja aku lari, dia akan menyesal,
sebelum pikiran itu tenggelam oleh kesedihan dibakar hidup-hidup, Golka
pingsan dengan jeritan yang pelang, memutar ke tanah seperti mayat
disekitarnya.
Jaldabaoth
berjalan tanpa arah tujuan. Namun, jika manusia mencoba lari, dia pasti akan
mengejarnya.
“Jangan
datang!”
Dia
berlari.
Viviana,
yang telah bergabung dalam pertempuran sebagai seorang Divine Magic Caster,
sedang berlari untuk hidupnya.
Rambut
pirangnya yang panjang berayun liar saat dia melarikan diri dengan sekuat
tenaga.
Dia
tidak punya waktu untuk mengusap ingus atau air matanya.
Tidak
ada yang bisa mengalahkan monster seperti itu.
Seseorang
telah mengatakan sesuatu.
Dia
tidak punya waktu untuk peduli tentang hal itu.
Yang
bisa dia pikiran adalah “Aku hanya ingin menjauh dari monster itu”.
Dia
tidak bisa mendorong orang-orang yang berlari didepannya. Yang bisa dia lakukan
hanyalah menekan mereka dan terus belari.
Minggir
dari jalanku.
Minggir
dari jalanku.
Minggir
dari jalanku.
Mengapa
ada begitu banyak orang dijalannya?
Aku
tidak peduli jika semua orang mati kecuali diriku, tetapi aku tidak ingin mati.
Viviana
berlalri dengan pemikiran itu didalam hatinya.
Sementara
dia pura-pura berlari, dia dikelilingi oleh orang-orang yang melarikan diri ke
segala arah. Bahkan Viviana, yang lebih cepat dari rata-rata orang, lambat
seperti kura-kura. Dia tidak bisa menjauh dari seorang Iblis.
Panas
mendesis membelai ujung rambut Viviana.
“Tidaaaaaaaak!”
Dia
memikiran cara mengerikan ketika orang orang tewas.
“Aku
tidak ingin mati!!”
Itu
hal yang sangat alami untuk sebuah teriakan.
Siapa
pun akan memikiran hal yang sama
Sangat
sulit untuk menerima kematian seseorang dengan tenang ketika itu menjulan
dihadapan mu.
“Ini
menyakitkaaaan!”
Panas
luar biasa yang berarti dia tidak bisa merasakan apa pun selain rasa sakit.
Otaknya diserang oleh penderitaan yang tidak tertahankan. Dia menyadari bahwa
dia akan segera mati.
Tidak,
aku tidak ingin mati, pikir Viviana saat ia mati terbakar.
Jaldabaoth
terus maju dalam keheningan saat dia mulai merasa bosan.
“Jangan
lari! Bertarunglah!” Seorang pria pemberani berteriak dari atas kuda.
Leonzio
adalah putra kedua punggawa yang melayani Marquis. Dia telaah bergabung dalam
pertempuran dengan harapan diakui karena ilmu pedangnya. Di sekelilingnya ada
orang orang yang di tempatkan oleh ayahnya dibawah komandonya, semuanya adalah
orang orang yang tahu kemampuannya.
Iblis
itu berjalan dengan cara yang santai, dan meninggalkan mayat yang tak terhitung
jumlahnya dibelakangnya, masing masing dari mereka merasakan penderitaan yang
amat mendalam. Dia ingin melarikan diri, tetapi jika dia melakukannya, masa
depannya akan suram dan gelap. Yang bisa ia lakukan adalah bertaruh untuk masa
depan yang cerah.
Setelah
membuat keputusan itu, dia berteriak, “Jangan lari!” berulang kali.
Namun,
kudanya tidak seperti dirinya. Instingnya berteriak bahwa Iblis yang mendekat
itu adalah monster yang sangat menakutkan, dan karenanya dia ingin melarikan
diri.
Apa
yang akan terjadi jika seekor kuda pecah diantara orang orang ini?
Itu
sangat sederhana.
Kuda
itu terjerat dalam kerumunan dan jatuh. Orang-orang yang tertimpa kuda itu
menjerit. Tidak, beberapa dari mereka telah tewas.
Leonzio
terlempar dari pelananya dan terjatuh ke tanah.
Untuknya,
dia mendarat diatas orang-orang dan dia tidak dihancurkan oleh massa. Namun
rasa sakit yang hebat memenuhi lengannya saat dia mencoba berlari. Dia memelintirnya
ketika dia terlempar dari kudanya.
Dia
tidak tahu kemana pedangnya pergi. Itu pasti terlempar karena ia terkejut saat
ia terlempar dari kudanya.
Dia
mencari disekitarannya — dan pada saat itu, dia diliputi oleh
gelombang rasa sakit dipikirannya. Ini adalah pertama kalinya Leonzio mengalami
kesedihan seperti itu dalam kehidupannya.
Kesedihan
membuatnya berhenti berpikir.
Dalam
kepahitan pikirannya yang terobati oleh rasa sakit.
“Hm.”
Seseorang
berdiri diatas tumpukan mayat yang terbakar. Evil Lord yang telah diberi tugas
bertindak sebagai Jaldabaoth mengamati orang-orang yang melarikan diri.
Itu
sedikit membosankan.
Aura
yang berapi-api itu bukanlah kemampuan yang luar biasa. Semua yang dilakukannya
adalah menimbulkan kerusakan api disekitarnya. Salah satunya bisa mengurangi
Damage itu dari mantra ketahanan api. Tentu saja, dia telah diberi pengetahuan
bahwa prajurit rata-rata tidak memiliki kemampuan seperti itu.
The
Evil Lord of Wrath menginjak mayat yang terbakar.
Jeroan
yang terjepit itu keluar oleh dampaknya yang hangus dalam sekejap.
Bau
jeroan itu memenuhi udara.
The
Evil Lord of Wrath berbalik.
Jika
itu menjadi serius dan mengambil ke langit, akan ada lebih banyak korban
sekarang. Apakah manusia-manusia ini sudah menyadari itu? The Evil Lord of
Wrath memegang pertanyaan itu dalam hatinya saat ia berjalan.
Semua
orang menyaksikannya tanpa berkata apa apa ketika Iblis itu berjalan dengan
bangga dan kembali ke perkemahan Demihuman.
Tidak
ada yang berpikir, apa monster itu. Tidak perlu bertanya juga. Bahkan orang
bodoh yang paling bodoh pun tahu apa jawabannya.
Dia
adalah Demon Emperor Jaldabaoth.
Mahluk
yang telah menginjak-injak Holy Kingdom dan membuat orang orang menangis.
Iblis
yang telah menyebabkan malapetakan di dua negara menunjukan kekuatannya yang
tidak pernah bisa diatas oleh manusia. Dia telah kembali untuk membawa
keputusasaan kepada orang-orang yang pernah dipenuhi dengan harapan.
♦ ♦ ♦
Aku mendengar dari keheningan, tetapi ini adalah sesuati yang lain. Neia
telah dipanggil ke tenda ini, dan dia terkejut oleh interiornya itu.
Meja telah dipindahkan secara khusus disini, dan para bangsawan selatan
yang duduk disekitarnya nampak pucat. Tidak, komandan tentara pembebas juga
sama.
Itu adalah reaksi yang alami.
Tidak ada yang bisa menyaksikan kekuatan luar biasa Jaldabaoth dan tidak
terkejut — tidak, saat itu, syok Neia belum sebagus itu. Namun, itu karena
terkejut kehilangan entitas besar yang dikenal sebagai Sorcerer King bahkan
lebih buruk. Itu, disamping semuanya yang telah ia saksikan sampai saat ini.
Namun para bangsawan selatan belum mengalami pertempuran yang keras sampai
sekarang, jadi mungkim alarm mereka yang diharapkan. Mereka tidak pernah
mengalami musuh yang bisa membunuh laki-laki satu demi satu hanya dengan
berjalan saja, tidak menginggalkan apapun kecuali mayat yang menyeramkan.
Selain itu, pasukan mereka yang hampir berjumlah 100.000 telah panik
oleh satu Iblis dan larut dalam kekalahan.
“—Apa ini? Apa-apaan ini! Apa yang kamu sebut itu, monster itu!”
Suara Count Domingus naik.
Sebaliknya, Caspond – yang tahu kekuatan luar biasa Jaldabaoth –
mengangkat bahu dengan acuh tak acuh.
“Itu adalah Jaldabaoth... yang asli. Aku sudah memberitahumu tentang dia
sebelumnya, Count Domingues.”
“Aku tidak pernah mendengar kemampuan untuk membunuh orang yang hanya
dengan berjalan!”
Apakah itu masalahnya? Neia mencemooh didalam hatinya.
“Memang, begitulah. Pertarungannya dengan Sorcerer King – Yang Mulia –
berada dikota, jadi kami tidak bisa melihat sepenuhnya. Tapi saya sudah
memberitahu anda betapa kuatnya dia. Jadi tentunya kemampuan itu seharusnya
tidak mengejutkan, bukan?”
“Bahkan, meski begitu!”
“—Count. Saya tahu apa yang ingin anda katakan. Melihat itu percaya,
bukan?”
Itu Marquis yang berbicara. Semua yang bisa dikatakan adalah bahwa
seseorang harus menyerahkan kepadanya karena tidak gugup seperti yang lainnya.
“...Tetapi tetap saja, mengatakan itu tidak akan membantu kami membuat
kemajuan. Haruskan kita tidak membahas apa yang perlu kita lakukan mulai
sekarang?”
“Itu masuk akan, Marquis-sama. Apa yang harus kita lakukan?” Viscount
Santz bertanya dalam semburan kata-kata yang cepat. Sikapnya bisa dimengerti,
mengingat bahwa dia tidak tahu apakah lokasinya sekarang aman.
Para bangsawan selatan bermaksud untuk menghancurkan beberapa Demihuman yang
melarikan diri dengan kekuatkan yang luar biasa untuk menjadi pahlah dinegri
ini. Seharusnya semudah itu. Namun, itu tidak terjadi. Sekarang para pemburu
telah menjadi mangsa.
Marquis melipat tangannya dan tetap diam. Caspond menjawab di tempatnya
“Kita memiliki keuntungan luar biasa dalam jumlah pasukan. Masalahnya
adalah Jaldabaoth dapat membalikan keuntungan itu sendiri. Saya ingin meminta
setiap orang mengajukan pertanyaan sesuai kemampuan saya sebagai Pangeran.
Menurut kalian apa yang harus kita lakukan untuk mencapai kemenangan dalam
situasi seperti ini?”
Setelah diam sejenak, Marquis menjawab, “Hanya itu yang bisa kita
lakukan” dengan nada yang sangat percaya diri.
“Caspond-denka. Seperti yang anda katakan sebelumnya, Jaldabaoth mungkin
akan mundur begitu kita memusnahkan para Demihuman kan? Jadi kita tidak punya
pilihan lain selain melakukannya”
“Marquis-sama! Apakah anda masih akan bertarung!?”
“Ya, Count Randalse. Apakah anda pikir kita bisa melarikan diri
sekarang?”
“...Marquis-sama, akan sangat sulit bagi kita semua untuk melarikan diri,
tapi kelompok yang kecil pasti masih bisa melarikan diri kan?”
Remedios mendengus saran Count Cohen.
“Itu adalah jawaban yang cocok untuk seseorang yang tidak berkompeten
yang bahkan tidak bisa memahami cita-cita Calca-sama”
“Apa!?”
“Apa yang akan anda lakukan setelah melarikan diri? Bersembunyi dibawah
tumpukan jerami di gudang? Bukankan anda seorang bangsawan? Bukankah anda
pernah mengatakan bahwa anda akan mengorbankan diri anda untuk rakyat atau
sesuatu yang seperti itu?”
“Dan anda, Kapten Custodio? Anda seorang Paladin dengan pedang suci,
tapi anda bahkan tidak bisa mengalahkan satu pun Iblis!” Count Randalse
berteriak.
Mata Remedios yang seperti hantu tampak bersinar dari dalam saat ia
berbalik menghadapnya.
“Itu benar. Saya tidak bisa mengalahkannya. Satu-satunya yang bisa
melawannya adalah Undead itu. Tapi jika itu akan menghabiskan waktu – bahkan jika
itu hanya untuk membiarkan orang-orang untuk hidup lebih lama – maka saya akan
bertarung sampai mati melawannya! Dan anda, apa yang akan anda lakukan?”
Ketika membandingkan seorang Warrior yang telah memutuskan dirinya untuk
mati dengan mata tertutup dengan seorang bangsawan yang ingin melarikan diri,
hasilnya adalah sebuah kesimpulan yang sebelumnya.
Count Randalse memalingkan mukanya, dan Remedios mendengus mengejeknya.
“Pangeranku, sementara saya sangat ingin memerintahkan para Paladin
mati, apakah anda masih ingin melanjutkannya?”
“Sementara itu juga sangat penting... yah, bisakah kau keluar? Kau tidak
keberatan meninggalkannya ke Wakil Kapten Montagnes, kan?”
“Saya mengerti. Dalam hal ini, aku akan menyerahkan sisanya padamu,
Montagnes”
Dengan itu, Remedios perlahan keluar dari tenda. Hal terakhir yang ia
lakukan adalah melirik CZ yang duduk disamping Neia.
“Semuanya, saya minta maaf atas nama kapten kami” kata Gustav sambil
menatap para bangsawan – yang akan “Jujur” – sebelum melanjutkannya, “Tetapi
tetap saja, pendapat itu adalah indikasi dari kita semua. Kami para Paladin
siap mati sebagai tameng bagi rakyat. Kami harap kalian, para bangsawan, juga
memiliki tekad yang sama. Bagaimanapun, kita tidak bisa bertarung jika tidak
ada komandan”
“Apa!?”
Sebelum Neia tahu siapa yang terkejut, Marquis Badipo berbicara.
“Itu sudah cukup... Kita tidak merencanakan cara untuk mati dengan luar
biasa, kita berencana untuk menang. Apakah saya benar, Pangeranku?”
“—Tidak ada cara untuk menang, ya kan!? Tidakkah anda melihat kekuatan
dari Iblis itu!?” Count Granero berteriak saat dia bangkit. “Jika dia
menggunakan sihir atau menyerang sesuatu yang lain, kita mungkin masih bisa
menemukan cara untuk menghentikannya! Tapi yang dia lakukan hanya berjalan! Dan
dia bisa mengubah area disekitarnya menjadi api neraka hanya dengan berjalan!”
“Kalau dipikir-pikir itu... Count Granero, anda tahu sedikit tentang
sihir kan? Apakah anda mempunyai—“
“Tidak ada yang saya pelajari untuk menghadapi kekuatan seperti itu...”
“Begitukan... Kemudian, anggap masih ada 10.000 musuh Demihuman yang
tersisa. Bisakah kita melarikan diri dari Jaldabaoth sambil memusnahkan mereka
pada saat yang bersamaan?”
Marquis tampaknya menyutujui usulan Caspond.
“Sepertinya tidak ada cara yang lain... Mesipun itu akan menyulitkan,
tapi saya pikir akan lebih menyulitkan untuk mencoba dan mengalahkan Jaldabaoth
dengan kekuatan kita”
“Tunggu sebentar” Count Cohen menyela dengan mengangkat tanganya. “Saya
keberatan. Jaldabaoth mungkin tidak akan pergi bahkan setelah kita membunuh
para Demihuman. Namun, dia munkin akan membunuh kita semua sebagai oleh-oleh
dulu sebelum dia pergi”
Dia benar. Oleh karena itu, Caspond menindaklanjuti dengan pertanyaan
masuk akal.
“Jadi apa yang harus kita lakukan?”
“Kita harus bernegosiasi”
Hanya karena sedikit orang yang berhasil menahan dorongan untuk
menertawakan Count Cohen saat dia menyampaikan saran itu dengan wajah penuh
pecaya dirinya yang sempurna.
Wajah Count Cohen memerah saat yang lain menertawakannya. Sebelumnya ia
bisa melanjutkannya, Caspond bertanya.
“Count, kesepakatan macam apa yang ingin anda buat dengan Iblis itu?”
“Ya, ya. Misalnya, mungkin kita bisa menukarnya dengan sesuatu untuk
membiarkan kita pergi dengan aman...”
“Apa yang akan kita berikan kepadanya? Bukankah lebih mudah untuk membunuh
kita dan membawa tubuh kita? Atau maksudmu kita harus menukarnya dengan sesuatu
yang tidak ada disini? Apa itu?”
“Tunggu sebentar Yang Mulia! Yang saya katakan adalah bahwa pertempuran
bukan satu-satunya pilihan kta! Saya hanya bermaksud mengatakan bahwa ada
kemungkin kita bisa bernegosiasi dengannya, itu saja!”
“Count, cara berpikirmu, ya, sedikit terlalu optimis. Sebagai permulaan,
siapa yang akan kita kirim untuk bernegosiasi dengan Iblis itu... Kalau
dipikir-pikir lagi aku mendengar bahwa Yang Mulia mengendalikan salah satu Maid
Iblis, dan dia ternyata sangat berguna dalam merebut kembali Kalinsha. Tentunya
Maid Iblis itu bisa melakukan sesuatu, ya kan?”
Count Granero menoleh melihat CZ.
“...Aku tidak bisa mengalahkan Jaldabaoth... Bahkan memberi sedikit
waktu pun akan sangat sulit.”
”Tetap saja, jika kau bertarung bersama Kapten Custodio, kau mungkin
bisa mengulur waktu”
Usulnya sangat masuk akal. Mereka akan membutuhkan seseorang untuk
menahan Jaldabaoth disana sementara mereka menjalakan rencana Caspond.
Namun, itu pada dasarnya akan mengirim mereka ke arah kematian mereka.
“...Hmm ~” CZ memiringkan kepalanya untuk melihat ke langit-langit, “...Ini
sebuah masalah...”
“Bagaimana dengan itu? Dengan itu, kita bisa memperdalam hubungan antara
Sorcerous Kingdom dan Holy Kingdom”
“...Hmm..hm!”
“Apakah itu berarti setuju?”
Haruskan aku menyela sekarang? Ketika Neia berpikir CZ langsung
menjawab.
“...Tidak”
“Boleh, bolehkah aku tahu alasannya?”
“...Tidak ada alasan”
“Tidak ada alasan?”
CZ mengangguk ke Count Domingues, yang membeku ditempatnya.
“Apakah Jaldabaoth benar-benar menakutkan!?”
“...Hm? ...Itu alasannya. Dia menakutkan dan aku tidak ingin
melakukannya”
“Guh” Count Domingues kehilangan kata-kata. Sekarang dia telah
mengatakan sebanyak itu, dia tidak punya jawaban untuknya. Jika CZ berkata, “Jika
kau tidak takut, maka kau pergi membeli waktu” akan selesai seperti itu. Jika
dia menolak usulan berdasarkan beberapa jenis argumen, maka yang perlu ia
lakukan adalah mengambil argumen itu, tapi karena dia menolaknya berdasarkan
perasaan, membuat alasan seperti itu akan sangat sulit.
Saat kesunyian kembali ke tenda, salah satu petinggi Pasukan Pembebasan,
seseorang yang memerintahkan ribuan Paladin dan prajurit perlahan-lahan
mengatakan.
“Mengapa kita tidak berlari sebelum Jaldabaoth mendapatkan keunggulan
sepenuhnya? Saya pikir kita tidak bisa mengalahkan monster seperti itu. Kita
dulu memiliki Sorcerer King dipihak kita, tapi dia tidak ada disini lagi...
Apakah ada yang tahu siapa yang bisa mengalahkan Jaldabaoth? Tidak, kan? Jika
kita melarikan diri ke Selatan—“
Disampingnya seorang komandan lain dengan tenang berkata,
“...Tidak ada jaminan bahwa Jaldabaoth tidak akan mengejar kita ke
selatan, kan?”
Dengan bunyi keras dari meja, pembicara sebelumnya berteriak.
“Kalau begitu, yang bisa kita lakukan adalah mengikuti saran Pangeran
dan membunuh para Demihuman! Jika kita tidak bisa melarikan diri, kita harus
bertarung! Sesederhana itu!”
“Betul, itu satu satunya cara agar kita bisa terus hidup. Saya tidak
ingin bersujud dan berjalan melalui neraka itu lagi. Mari kita mulai dengan
menyusun strategi—“
Penutup tenda dibuka dengan paksa, dan seorang Paladin yang melapor
langsung ke Caspond bergerak masuk.
“Yang Mulia! Para Demihuman mulai bergerak! Mereka sedang mereformasi
arah mereka!”
Mereka tidak memiliki formasi yang tepat dalam pertempuran sebelumnya.
Apakah mereka memilikinya sekarang karena dikomandoi oleh Jaldabaoth?
“Begitukah... Semuanya, musuh akan segera menyerang. Kita harus bersiap
untuk pertempuran secepat mungkin!”
Setelah Caspond selesai, semua orang yang dipanggil ke sini berdiri
tegap. Neia dan CZ juga melakukannya.
Yang lain bergegas keluar dari tenda terlebih dahulu, bersemangat untuk
menghemat waktu.
Yang terakhir bergegas keluar tenda adalah Neia dan CZ. Unit Neia sudah
berkumpul, jadi tidak perlu mengumpulkannya.
Neia tiba-tiba merasa ada sesuatu yang salah tentang ekspresi suram
diwajah pembawa pesan yang telah menerobos masuk ke tenda, tetapi dia tidak
bisa berbuat apa-apa, jadi dia dan CZ kembali ke unit mereka.
OVERLORD Volume 13 Chapter 4 Part 4 Selesai

No comments:
Post a Comment
Berkomentarlah dengan Sopan