Translator Novel Bahasa Indonesia

Thursday, 17 May 2018

OVERLORD Volume 13 Chapter 4 Part 4 Bahasa Indonesia




Savior of the Nation
Part 4


Golka dibakar dengan pasukan lain yang lebih lemah darinya.


Golka menyadari sesuatu.


Dimata moster itu, Golka tidak berbeda dengan penduduk sipil disekitarnya


Jika saja aku lari, dia akan menyesal,  sebelum pikiran itu tenggelam oleh kesedihan dibakar hidup-hidup, Golka pingsan dengan jeritan yang pelang, memutar ke tanah seperti mayat disekitarnya.

Jaldabaoth berjalan tanpa arah tujuan. Namun, jika manusia mencoba lari, dia pasti akan mengejarnya.


“Jangan datang!”


Dia berlari.


Viviana, yang telah bergabung dalam pertempuran sebagai seorang Divine Magic Caster, sedang berlari untuk hidupnya.


Rambut pirangnya yang panjang berayun liar saat dia melarikan diri dengan sekuat tenaga.


Dia tidak punya waktu untuk mengusap ingus atau air matanya.


Tidak ada yang bisa mengalahkan monster seperti itu.


Seseorang telah mengatakan sesuatu.


Dia tidak punya waktu untuk peduli tentang hal itu.


Yang bisa dia pikiran adalah “Aku hanya ingin menjauh dari monster itu”.


Dia tidak bisa mendorong orang-orang yang berlari didepannya. Yang bisa dia lakukan hanyalah menekan mereka dan terus belari.


Minggir dari jalanku.


Minggir dari jalanku.


Minggir dari jalanku.


Mengapa ada begitu banyak orang dijalannya?


Aku tidak peduli jika semua orang mati kecuali diriku, tetapi aku tidak ingin mati.


Viviana berlalri dengan pemikiran itu didalam hatinya.


Sementara dia pura-pura berlari, dia dikelilingi oleh orang-orang yang melarikan diri ke segala arah. Bahkan Viviana, yang lebih cepat dari rata-rata orang, lambat seperti kura-kura. Dia tidak bisa menjauh dari seorang Iblis.


Panas mendesis membelai ujung rambut Viviana.


“Tidaaaaaaaak!”


Dia memikiran cara mengerikan ketika orang orang tewas.


“Aku tidak ingin mati!!”


Itu hal yang sangat alami untuk sebuah teriakan.


Siapa pun akan memikiran hal yang sama


Sangat sulit untuk menerima kematian seseorang dengan tenang ketika itu menjulan dihadapan mu.


“Ini menyakitkaaaan!”


Panas luar biasa yang berarti dia tidak bisa merasakan apa pun selain rasa sakit. Otaknya diserang oleh penderitaan yang tidak tertahankan. Dia menyadari bahwa dia akan segera mati.


Tidak, aku tidak ingin mati, pikir Viviana saat ia mati terbakar.


Jaldabaoth terus maju dalam keheningan saat dia mulai merasa bosan.


“Jangan lari! Bertarunglah!” Seorang pria pemberani berteriak dari atas kuda.


Leonzio adalah putra kedua punggawa yang melayani Marquis. Dia telaah bergabung dalam pertempuran dengan harapan diakui karena ilmu pedangnya. Di sekelilingnya ada orang orang yang di tempatkan oleh ayahnya dibawah komandonya, semuanya adalah orang orang yang tahu kemampuannya.


Iblis itu berjalan dengan cara yang santai, dan meninggalkan mayat yang tak terhitung jumlahnya dibelakangnya, masing masing dari mereka merasakan penderitaan yang amat mendalam. Dia ingin melarikan diri, tetapi jika dia melakukannya, masa depannya akan suram dan gelap. Yang bisa ia lakukan adalah bertaruh untuk masa depan yang cerah.


Setelah membuat keputusan itu, dia berteriak, “Jangan lari!” berulang kali.


Namun, kudanya tidak seperti dirinya. Instingnya berteriak bahwa Iblis yang mendekat itu adalah monster yang sangat menakutkan, dan karenanya dia ingin melarikan diri.


Apa yang akan terjadi jika seekor kuda pecah diantara orang orang ini?


Itu sangat sederhana.


Kuda itu terjerat dalam kerumunan dan jatuh. Orang-orang yang tertimpa kuda itu menjerit. Tidak, beberapa dari mereka telah tewas.


Leonzio terlempar dari pelananya dan terjatuh ke tanah.


Untuknya, dia mendarat diatas orang-orang dan dia tidak dihancurkan oleh massa. Namun rasa sakit yang hebat memenuhi lengannya saat dia mencoba berlari. Dia memelintirnya ketika dia terlempar dari kudanya.


Dia tidak tahu kemana pedangnya pergi. Itu pasti terlempar karena ia terkejut saat ia terlempar dari kudanya.


Dia mencari disekitarannya dan pada saat itu, dia diliputi oleh gelombang rasa sakit dipikirannya. Ini adalah pertama kalinya Leonzio mengalami kesedihan seperti itu dalam kehidupannya.


Kesedihan membuatnya berhenti berpikir.


Dalam kepahitan pikirannya yang terobati oleh rasa sakit.


“Hm.”


Seseorang berdiri diatas tumpukan mayat yang terbakar. Evil Lord yang telah diberi tugas bertindak sebagai Jaldabaoth mengamati orang-orang yang melarikan diri.


Itu sedikit membosankan.


Aura yang berapi-api itu bukanlah kemampuan yang luar biasa. Semua yang dilakukannya adalah menimbulkan kerusakan api disekitarnya. Salah satunya bisa mengurangi Damage itu dari mantra ketahanan api. Tentu saja, dia telah diberi pengetahuan bahwa prajurit rata-rata tidak memiliki kemampuan seperti itu.


The Evil Lord of Wrath menginjak mayat yang terbakar.


Jeroan yang terjepit itu keluar oleh dampaknya yang hangus dalam sekejap.


Bau jeroan itu memenuhi udara.


The Evil Lord of Wrath berbalik.


Jika itu menjadi serius dan mengambil ke langit, akan ada lebih banyak korban sekarang. Apakah manusia-manusia ini sudah menyadari itu? The Evil Lord of Wrath memegang pertanyaan itu dalam hatinya saat ia berjalan.


Semua orang menyaksikannya tanpa berkata apa apa ketika Iblis itu berjalan dengan bangga dan kembali ke perkemahan Demihuman.


Tidak ada yang berpikir, apa monster itu. Tidak perlu bertanya juga. Bahkan orang bodoh yang paling bodoh pun tahu apa jawabannya.


Dia adalah Demon Emperor Jaldabaoth.


Mahluk yang telah menginjak-injak Holy Kingdom dan membuat orang orang menangis.


Iblis yang telah menyebabkan malapetakan di dua negara menunjukan kekuatannya yang tidak pernah bisa diatas oleh manusia. Dia telah kembali untuk membawa keputusasaan kepada orang-orang yang pernah dipenuhi dengan harapan.


♦ ♦ ♦


Aku mendengar dari keheningan, tetapi ini adalah sesuati yang lain. Neia telah dipanggil ke tenda ini, dan dia terkejut oleh interiornya itu.


Meja telah dipindahkan secara khusus disini, dan para bangsawan selatan yang duduk disekitarnya nampak pucat. Tidak, komandan tentara pembebas juga sama.


Itu adalah reaksi yang alami.


Tidak ada yang bisa menyaksikan kekuatan luar biasa Jaldabaoth dan tidak terkejut — tidak, saat itu, syok Neia belum sebagus itu. Namun, itu karena terkejut kehilangan entitas besar yang dikenal sebagai Sorcerer King bahkan lebih buruk. Itu, disamping semuanya yang telah ia saksikan sampai saat ini. Namun para bangsawan selatan belum mengalami pertempuran yang keras sampai sekarang, jadi mungkim alarm mereka yang diharapkan. Mereka tidak pernah mengalami musuh yang bisa membunuh laki-laki satu demi satu hanya dengan berjalan saja, tidak menginggalkan apapun kecuali mayat yang menyeramkan.


Selain itu, pasukan mereka yang hampir berjumlah 100.000 telah panik oleh satu Iblis dan larut dalam kekalahan.


“—Apa ini? Apa-apaan ini! Apa yang kamu sebut itu, monster itu!”


Suara Count Domingus naik.


Sebaliknya, Caspond – yang tahu kekuatan luar biasa Jaldabaoth – mengangkat bahu dengan acuh tak acuh.


“Itu adalah Jaldabaoth... yang asli. Aku sudah memberitahumu tentang dia sebelumnya, Count Domingues.”


“Aku tidak pernah mendengar kemampuan untuk membunuh orang yang hanya dengan berjalan!”


Apakah itu masalahnya? Neia mencemooh didalam hatinya.


“Memang, begitulah. Pertarungannya dengan Sorcerer King – Yang Mulia – berada dikota, jadi kami tidak bisa melihat sepenuhnya. Tapi saya sudah memberitahu anda betapa kuatnya dia. Jadi tentunya kemampuan itu seharusnya tidak mengejutkan, bukan?”


“Bahkan, meski begitu!”


“—Count. Saya tahu apa yang ingin anda katakan. Melihat itu percaya, bukan?”


Itu Marquis yang berbicara. Semua yang bisa dikatakan adalah bahwa seseorang harus menyerahkan kepadanya karena tidak gugup seperti yang lainnya.


“...Tetapi tetap saja, mengatakan itu tidak akan membantu kami membuat kemajuan. Haruskan kita tidak membahas apa yang perlu kita lakukan mulai sekarang?”


“Itu masuk akan, Marquis-sama. Apa yang harus kita lakukan?” Viscount Santz bertanya dalam semburan kata-kata yang cepat. Sikapnya bisa dimengerti, mengingat bahwa dia tidak tahu apakah lokasinya sekarang aman.


Para bangsawan selatan bermaksud untuk menghancurkan beberapa Demihuman yang melarikan diri dengan kekuatkan yang luar biasa untuk menjadi pahlah dinegri ini. Seharusnya semudah itu. Namun, itu tidak terjadi. Sekarang para pemburu telah menjadi mangsa.


Marquis melipat tangannya dan tetap diam. Caspond menjawab di tempatnya


“Kita memiliki keuntungan luar biasa dalam jumlah pasukan. Masalahnya adalah Jaldabaoth dapat membalikan keuntungan itu sendiri. Saya ingin meminta setiap orang mengajukan pertanyaan sesuai kemampuan saya sebagai Pangeran. Menurut kalian apa yang harus kita lakukan untuk mencapai kemenangan dalam situasi seperti ini?”


Setelah diam sejenak, Marquis menjawab, “Hanya itu yang bisa kita lakukan” dengan nada yang sangat percaya diri.


“Caspond-denka. Seperti yang anda katakan sebelumnya, Jaldabaoth mungkin akan mundur begitu kita memusnahkan para Demihuman kan? Jadi kita tidak punya pilihan lain selain melakukannya”


“Marquis-sama! Apakah anda masih akan bertarung!?”


“Ya, Count Randalse. Apakah anda pikir kita bisa melarikan diri sekarang?”


“...Marquis-sama, akan sangat sulit bagi kita semua untuk melarikan diri, tapi kelompok yang kecil pasti masih bisa melarikan diri kan?”


Remedios mendengus saran Count Cohen.


“Itu adalah jawaban yang cocok untuk seseorang yang tidak berkompeten yang bahkan tidak bisa memahami cita-cita Calca-sama”


“Apa!?”


“Apa yang akan anda lakukan setelah melarikan diri? Bersembunyi dibawah tumpukan jerami di gudang? Bukankan anda seorang bangsawan? Bukankah anda pernah mengatakan bahwa anda akan mengorbankan diri anda untuk rakyat atau sesuatu yang seperti itu?”


“Dan anda, Kapten Custodio? Anda seorang Paladin dengan pedang suci, tapi anda bahkan tidak bisa mengalahkan satu pun Iblis!” Count Randalse berteriak.


Mata Remedios yang seperti hantu tampak bersinar dari dalam saat ia berbalik menghadapnya.

“Itu benar. Saya tidak bisa mengalahkannya. Satu-satunya yang bisa melawannya adalah Undead itu. Tapi jika itu akan menghabiskan waktu – bahkan jika itu hanya untuk membiarkan orang-orang untuk hidup lebih lama – maka saya akan bertarung sampai mati melawannya! Dan anda, apa yang akan anda lakukan?”


Ketika membandingkan seorang Warrior yang telah memutuskan dirinya untuk mati dengan mata tertutup dengan seorang bangsawan yang ingin melarikan diri, hasilnya adalah sebuah kesimpulan yang sebelumnya.


Count Randalse memalingkan mukanya, dan Remedios mendengus mengejeknya.


“Pangeranku, sementara saya sangat ingin memerintahkan para Paladin mati, apakah anda masih ingin melanjutkannya?”


“Sementara itu juga sangat penting... yah, bisakah kau keluar? Kau tidak keberatan meninggalkannya ke Wakil Kapten Montagnes, kan?”


“Saya mengerti. Dalam hal ini, aku akan menyerahkan sisanya padamu, Montagnes”


Dengan itu, Remedios perlahan keluar dari tenda. Hal terakhir yang ia lakukan adalah melirik CZ yang duduk disamping Neia.


“Semuanya, saya minta maaf atas nama kapten kami” kata Gustav sambil menatap para bangsawan – yang akan “Jujur” – sebelum melanjutkannya, “Tetapi tetap saja, pendapat itu adalah indikasi dari kita semua. Kami para Paladin siap mati sebagai tameng bagi rakyat. Kami harap kalian, para bangsawan, juga memiliki tekad yang sama. Bagaimanapun, kita tidak bisa bertarung jika tidak ada komandan”


“Apa!?”


Sebelum Neia tahu siapa yang terkejut, Marquis Badipo berbicara.


“Itu sudah cukup... Kita tidak merencanakan cara untuk mati dengan luar biasa, kita berencana untuk menang. Apakah saya benar, Pangeranku?”


“—Tidak ada cara untuk menang, ya kan!? Tidakkah anda melihat kekuatan dari Iblis itu!?” Count Granero berteriak saat dia bangkit. “Jika dia menggunakan sihir atau menyerang sesuatu yang lain, kita mungkin masih bisa menemukan cara untuk menghentikannya! Tapi yang dia lakukan hanya berjalan! Dan dia bisa mengubah area disekitarnya menjadi api neraka hanya dengan berjalan!”


“Kalau dipikir-pikir itu... Count Granero, anda tahu sedikit tentang sihir kan? Apakah anda mempunyai—“


“Tidak ada yang saya pelajari untuk menghadapi kekuatan seperti itu...”


“Begitukan... Kemudian, anggap masih ada 10.000 musuh Demihuman yang tersisa. Bisakah kita melarikan diri dari Jaldabaoth sambil memusnahkan mereka pada saat yang bersamaan?”


Marquis tampaknya menyutujui usulan Caspond.


“Sepertinya tidak ada cara yang lain... Mesipun itu akan menyulitkan, tapi saya pikir akan lebih menyulitkan untuk mencoba dan mengalahkan Jaldabaoth dengan kekuatan kita”


“Tunggu sebentar” Count Cohen menyela dengan mengangkat tanganya. “Saya keberatan. Jaldabaoth mungkin tidak akan pergi bahkan setelah kita membunuh para Demihuman. Namun, dia munkin akan membunuh kita semua sebagai oleh-oleh dulu sebelum dia pergi”


Dia benar. Oleh karena itu, Caspond menindaklanjuti dengan pertanyaan masuk akal.


“Jadi apa yang harus kita lakukan?”


“Kita harus bernegosiasi”


Hanya karena sedikit orang yang berhasil menahan dorongan untuk menertawakan Count Cohen saat dia menyampaikan saran itu dengan wajah penuh pecaya dirinya yang sempurna.


Wajah Count Cohen memerah saat yang lain menertawakannya. Sebelumnya ia bisa melanjutkannya, Caspond bertanya.


“Count, kesepakatan macam apa yang ingin anda buat dengan Iblis itu?”


“Ya, ya. Misalnya, mungkin kita bisa menukarnya dengan sesuatu untuk membiarkan kita pergi dengan aman...”


“Apa yang akan kita berikan kepadanya? Bukankah lebih mudah untuk membunuh kita dan membawa tubuh kita? Atau maksudmu kita harus menukarnya dengan sesuatu yang tidak ada disini? Apa itu?”


“Tunggu sebentar Yang Mulia! Yang saya katakan adalah bahwa pertempuran bukan satu-satunya pilihan kta! Saya hanya bermaksud mengatakan bahwa ada kemungkin kita bisa bernegosiasi dengannya, itu saja!”


“Count, cara berpikirmu, ya, sedikit terlalu optimis. Sebagai permulaan, siapa yang akan kita kirim untuk bernegosiasi dengan Iblis itu... Kalau dipikir-pikir lagi aku mendengar bahwa Yang Mulia mengendalikan salah satu Maid Iblis, dan dia ternyata sangat berguna dalam merebut kembali Kalinsha. Tentunya Maid Iblis itu bisa melakukan sesuatu, ya kan?”


Count Granero menoleh melihat CZ.


“...Aku tidak bisa mengalahkan Jaldabaoth... Bahkan memberi sedikit waktu pun akan sangat sulit.”


”Tetap saja, jika kau bertarung bersama Kapten Custodio, kau mungkin bisa mengulur waktu”


Usulnya sangat masuk akal. Mereka akan membutuhkan seseorang untuk menahan Jaldabaoth disana sementara mereka menjalakan rencana Caspond.


Namun, itu pada dasarnya akan mengirim mereka ke arah kematian mereka.


“...Hmm ~” CZ memiringkan kepalanya untuk melihat ke langit-langit, “...Ini sebuah masalah...”


“Bagaimana dengan itu? Dengan itu, kita bisa memperdalam hubungan antara Sorcerous Kingdom dan Holy Kingdom”


“...Hmm..hm!”


“Apakah itu berarti setuju?”


Haruskan aku menyela sekarang? Ketika Neia berpikir CZ langsung menjawab.


“...Tidak”


“Boleh, bolehkah aku tahu alasannya?”


“...Tidak ada alasan”


“Tidak ada alasan?”


CZ mengangguk ke Count Domingues, yang membeku ditempatnya.


“Apakah Jaldabaoth benar-benar menakutkan!?”


“...Hm? ...Itu alasannya. Dia menakutkan dan aku tidak ingin melakukannya”


“Guh” Count Domingues kehilangan kata-kata. Sekarang dia telah mengatakan sebanyak itu, dia tidak punya jawaban untuknya. Jika CZ berkata, “Jika kau tidak takut, maka kau pergi membeli waktu” akan selesai seperti itu. Jika dia menolak usulan berdasarkan beberapa jenis argumen, maka yang perlu ia lakukan adalah mengambil argumen itu, tapi karena dia menolaknya berdasarkan perasaan, membuat alasan seperti itu akan sangat sulit.


Saat kesunyian kembali ke tenda, salah satu petinggi Pasukan Pembebasan, seseorang yang memerintahkan ribuan Paladin dan prajurit perlahan-lahan mengatakan.


“Mengapa kita tidak berlari sebelum Jaldabaoth mendapatkan keunggulan sepenuhnya? Saya pikir kita tidak bisa mengalahkan monster seperti itu. Kita dulu memiliki Sorcerer King dipihak kita, tapi dia tidak ada disini lagi... Apakah ada yang tahu siapa yang bisa mengalahkan Jaldabaoth? Tidak, kan? Jika kita melarikan diri ke Selatan—“


Disampingnya seorang komandan lain dengan tenang berkata,


“...Tidak ada jaminan bahwa Jaldabaoth tidak akan mengejar kita ke selatan, kan?”


Dengan bunyi keras dari meja, pembicara sebelumnya berteriak.


“Kalau begitu, yang bisa kita lakukan adalah mengikuti saran Pangeran dan membunuh para Demihuman! Jika kita tidak bisa melarikan diri, kita harus bertarung! Sesederhana itu!”


“Betul, itu satu satunya cara agar kita bisa terus hidup. Saya tidak ingin bersujud dan berjalan melalui neraka itu lagi. Mari kita mulai dengan menyusun strategi—“


Penutup tenda dibuka dengan paksa, dan seorang Paladin yang melapor langsung ke Caspond bergerak masuk.


“Yang Mulia! Para Demihuman mulai bergerak! Mereka sedang mereformasi arah mereka!”


Mereka tidak memiliki formasi yang tepat dalam pertempuran sebelumnya. Apakah mereka memilikinya sekarang karena dikomandoi oleh Jaldabaoth?


“Begitukah... Semuanya, musuh akan segera menyerang. Kita harus bersiap untuk pertempuran secepat mungkin!”


Setelah Caspond selesai, semua orang yang dipanggil ke sini berdiri tegap. Neia dan CZ juga melakukannya.


Yang lain bergegas keluar dari tenda terlebih dahulu, bersemangat untuk menghemat waktu.


Yang terakhir bergegas keluar tenda adalah Neia dan CZ. Unit Neia sudah berkumpul, jadi tidak perlu mengumpulkannya.


Neia tiba-tiba merasa ada sesuatu yang salah tentang ekspresi suram diwajah pembawa pesan yang telah menerobos masuk ke tenda, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, jadi dia dan CZ kembali ke unit mereka.


OVERLORD Volume 13 Chapter 4 Part 4 Selesai

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan Sopan