Chapter 2 - Yukinoshita Yukino yang selalu keras kepala
Ketika
hendak keluar dari kelas setelah pengarahan dari Wali Kelas di jam pelajaran
terakhir, aku melihat Hiratsuka-sensei berdiri di lorong dan menungguku. Dia
ini seperti sipir penjara, berdiri tanpa bergerak sedikitpun dengan
menyilangkan lengannya. Faktanya, jika dia memakai pakaian militer dan membawa
cambuk, mungkin itu akan terlihat sangat cocok dengannya. Well, karena sekolah
ini juga mirip dengan penjara, kurasa imajinasi seperti itu bukanlah imajinasi
yang berlebihan. Maksudku, kau bisa membandingkan itu dengan Alcatraz atau
Cassandra. Akan lebih bagus lagi jika Penyelamat Akhir Jaman muncul dan tiba
disini.
“Hikigaya.
Saatnya untuk aktivitas klub.”
Setelah
dia mengatakannya, aku bisa merasakan kalau seluruh darah di tubuhku menjadi
dingin. Sial. Aku akan ditangkap. Kalau aku sampai dikawal menuju ruangan klub
maka bisa dipastikan kalau diriku akan kehilangan seluruh kehidupan SMA-ku.
Yukinoshita,
adalah seorang gadis yang terlahir superior, mengatakan kata-kata yang beracun.
Ini sangat menusuk dan tidak terlihat manis sama sekali. Apakah ini pantas
disebut tsundere? Oh tunggu dulu, deskripsi tadi tampaknya persis ciri-ciri
Wanita Jalang Tua.
Meski
begitu, Hiratsuka-sensei tampak tidak peduli kepadaku dan hanya bisa tersenyum.
“Ayo
jalan.”
Hiratsuka-sensei
mengatakan itu dan berusaha menarik lenganku. Aku berusaha menghindarinya.
Tanpa
ragu, dia lalu berusaha menangkap tanganku lagi. Akupun berusaha menghindarinya
lagi.
“Umm,
begini...Saya pikir, dari semua hal, sistem pendidikan kita harusnya membantu
siswa agar berani dan menghormati kebebasan...Jadi saya ingin mengatakan
keberatan tentang bagaimana saya dipaksa untuk ikut kegiatan ini...”
“Sayangnya,
sekolah adalah institusi yang didesain untuk melatih siswa agar bisa
terintegrasi dengan baik dengan komunitas masyarakat. Sekali kau masuk ke
komunitas, tidak akan ada yang peduli dengan pendapatmu. Jadi kau harus mulai
membiasakan dirimu untuk dipaksa melakukan apapun.”
Setelah
Sensei mengatakan itu, sebuah pukulan dengan cepat melayang ke arahku.
Dia
tidak memberiku pukulan yang biasanya, tapi pukulan kali ini dia memukul dengan
menambahkan gerakan memutar seperti memasang sekrup. Sangat bertenaga sehingga
aku kesulitan untuk bernapas. Lalu tanpa membuang-buang waktu, dia menghentikan
upayanya untuk membunuhku dan menarik tanganku.
“Kau
sudah tahu apa yang terjadi jika mencoba berdebat denganku? Jangan macam-macam
dengan kepalan tanganku ini.”
“Kepalan
tangan anda sangat mematikan...”
Mustahil
ada rasa sakit yang melebihi pukulannya tadi.
Sambil
berjalan, Hiratsuka-sensei membuka mulutnya seperti teringat sesuatu.
“Oh
benar. Kalau kau mencoba kabur lagi maka kau akan otomatis kalah dalam
perlombaan dengan Yukinoshita. Tidak menerima satupun alasan. Malahan, kau akan
mendapatkan penalti. Kurasa kau jangan berharap untuk bisa lulus begitu saja
dari SMA ini di kelas 3 nanti.”
Tampaknya
mustahil aku bisa lolos dari ini. Bukannya ini berhubungan dengan itu sih.
Ketika suara hak sepatunya yang menghantam lantai berbunyi dengan keras, Sensei
berjalan di sampingku. Yang membuatnya terlihat buruk, dia menggandeng
lenganku. Kalau dilihat-lihat, Sensei seperti hostess bar yang bercosplay
sebagai guru yang sedang mengawalku menuju pertunjukan kabaret cosplay-nya.
Tapi
ada 3 hal yang berbeda. Pertama, aku tidak membayarnya sama sekali. Kedua, dia
sebenarnya tidak memegangi lenganku, tetapi menarik ujung lenganku. Terakhir,
aku tidak terlihat bahagia ataupun antusias. Well, kecuali kalau ujung siku
milikku ini menyentuh dada Sensei.
Ruangan
klub itu adalah satu-satunya tempat yang kita tuju.
“Um,
saya ini tidak akan kabur atau semacamnya, tidak apa-apa jika saya pergi
sendirian. Maksud saya, Sensei tahu kalau saya selalu sendirian. Jadi saya
pasti baik-baik saja sendirian. Atau lebih tepatnya, jika saya tidak datang
sendirian, saya tidak bisa menjaga agar diri saya tetap tenang.”
“Jangan
mengatakan hal-hal menyedihkan seperti itu. Aku ingin kita pergi bersama.”
Sensei
mendesah kecil dan tersenyum kepadaku. Ini sangat berbeda dengan tatapan mata
yang yang biasanya terlihat sedang merendahkanku. Perbedaan ini mulai
mengusikku.
“Membiarkanmu
kabur sudah cukup untuk membuatku menyeringai karena emosi. Jadi meski aku
tidak mau, aku tetap akan menyeretmu kesana untuk mengobati pikiranku yang
stress.”
“Itu
adalah alasan terburuk yang pernah saya dengar!”
“Bagaimana
ya? Meskipun kegiatan semacam ini menggangguku, aku masih mau menemanimu agar
bisa memperbaikimu. Ini adalah sesuatu yang bisa kau sebut dengan sebuah
hubungan cinta yang indah antara guru dan muridnya.”
“Apa
seperti ini yang disebut cinta? Kalau ini dinamakan cinta maka saya tidak
membutuhkannya.”
“Alasan
tadi menunjukkan kalau dirimu ini sedang bimbang, benar tidak?...Saking
bingungnya sehingga semua titik di tubuhmu itu terbalik? Apa kau akan membuat
Holy Cross Mausoleum atau sejenisnya?”
Kau
tampaknya penggemar berat manga...
“Kalau
kau tidak banyak mengeluh, maka kau akan terlihat lebih manis. Tidak ada yang
menyenangkan jika melihat dunia ini dari sudut pandangmu.”
“Well,
dunia ini memang tidak semuanya tersinari oleh cahaya matahari dan kebahagiaan.
Jika komunitas sosial hanya terbentuk dari orang-orang yang melihat dunia ini
seperti sebuah hal-hal yang menggembirakan saja, Hollywood tidak akan membuat
film yang bisa membuat orang menangis, bukan? Akan selalu ada orang-orang yang
bisa menemukan sebuah kebahagiaan dalam tragedi.”
“Berceramah
seperti itu memanglah keahlianmu. Meski memang cukup lumrah bagi anak muda
bersikap antipati, tapi levelmu ini sudah dikategorikan penyakit berbahaya.
Sebuah sakit yang merupakan karakter dari siswa tingkat sebelas. Yeah, kau bisa
menyebutnya ‘kounibyou’.”
Hiratsuka-sensei
terlihat tersenyum bahagia sambil mengkonfirmasi apa penyakitku ini.
“Hei,
bukankah itu terlalu kasar? Memperlakukan saya seperti saya memiliki penyakit?
Maksud saya, ada apa dengan kounibyou ini?”
“Apa
kamu suka manga dan anime?”
Seperti
tidak mempedulikan pertanyaanku, dia mengganti topiknya.
“Well,
saya tidak membencinya atau sejenis itu.”
“Jadi
kenapa kau menyukainya?”
“Itu
karena...Menggambarkan budaya Jepang. Itu juga merupakan bagian dari budaya
populer yang dibanggakan oleh Jepang. Bukankah akan terasa aneh jika saya tidak
mengagumi fakta itu? Karena pasar domestiknya menjadi lebih besar, kita juga
tidak bisa menyepelekan dampak ekonominya.”
“Begitu
ya. Bagaimana dengan literatur-literatur umum? Higashino Keigo dan Isaka
Koutarou atau sejenisnya?”
“Well
sejujurnya saya sudah membaca karya mereka, saya suka buku-buku yang mereka
tulis sebelum mereka menjadi terkenal.”
“Apa
perusahaan penerbit favoritmu?”
“GaGaGa...dan
Kodansha Box. Well, sebenarnya saya tidak tahu apakah Sensei akan
mengkategorikan terbitan Kodansha Box sebagai Ligh Novel atau tidak. Kenapa
Sensei menanyakan hal-hal ini?”
“Well.
Kau ini sudah memenuhi ekspektasiku...bukan dalam hal yang bagus. Sebuah contoh
sempurna dari kounibyou.”
“Seperti
kata saya tadi, apa sih kounibyou?”
“Kounibyou
ya kounibyou. Sebuah pola pikir yang dimiliki siswa SMA. Mereka pikir jika bersikap
sinis adalah keren, dan selalu memandang hal-hal populer di internet seperti ‘Bekerja
berarti kalah dengan sistem’. Ketika membicarakan penulis novel dan manga
populer, mereka akan mengatakan ‘aku lebih menyukai karya-karya mereka sebelum
mereka populer’. Mereka mengejek semua usaha tiap orang dan memuji sesuatu yang
tidak jelas. Dan yang terpenting, mereka mengejek para otaku meski mereka
sendiri merupakan otaku. Mereka berbicara seperti mereka memahami semuanya,
lalu mereka mengatakan sesuatu yang bisa membuat pemikiran menjadi bingung.
Sederhananya, mereka adalah kaum yang tidak disukai.”
“Tidak
disukai...aduh sial! Itu menggambarkan saya dengan tepat sehingga saya tidak
bisa menyangkalnya!”
“Sebenarnya
tidak begitu, aku ini sedang memujimu. Para siswa jaman sekarang harusnya
pintar-pintar dan bisa menyesuaikan dengan keadaan dengan mudah. Sebagai
seorang guru, aku tidak bisa mengatakan kalau aku senang melihat kesalahanmu
itu. Maksudku, melihat bagaimana caraku berbicara denganmu seperti kau ini
adalah orang dewasa membuatku merasa kita ini sebagai rekan kerja.”
“Siswa
jaman sekarang, huh?”
Secara
spontan aku tersenyum kecut ketika mengatakannya. Sebuah hal yang klise untuk
dikatakan. Aku merasa jengkel, lalu aku memikirkan sesuatu untuk membalasnya.
Tapi, Sensei sepertinya bisa menyadari maksudku dan menatapku dengan tajam,
akupun menaikkan bahuku.
“Tampaknya
kau akan mengatakan sesuatu yang sesuai dengan karakteristik siswa pengidap
kounibyou.”
“...Oh
benarkah.”
“Aku
tidak ingin kau salah tangkap tapi aku ini benar-benar memujimu. Aku suka orang
yang memegang teguh idealismenya. Meski mereka itu berbeda.”
Mendengar
Sensei mengatakan ‘suka’ membuatku merasa seperti orang idiot. Aku mulai
gelisah untuk membalasnya balik karena kata yang barusan kudengar itu merupakan
kata yang sangat langka.
“Berbeda
seperti halnya dirimu, bagaimana pendapatmu soal Yukinoshita Yukino?”
“Dia
sangat menjengkelkan.”
Aku
menjawabnya begitu saja. Saking bencinya hingga aku mengira Sensei mengatakan ‘Kau
harusnya menyerah saja menghadapi jalan yang dibeton itu'.
“Begitu
ya.”
Hiratsuka-sensei
mengatakannya dengan senyum yang kecut, lalu dia menambahkan.
“Meski
begitu, dia memang siswi sempurna yang unik...Well, mereka yang menderita itu mungkin
akan merasa seperti itu. Tapi tetap, dia adalah gadis yang sangat manis.”
Manis
dalam hal apa? Itulah yang ada di pikiranku, sambil menggoyang-goyangkan
kepalaku dalam pikiran.
“Dia
juga punya semacam ‘penyakit’ itu. Dia gadis yang baik dan berbuat benar. Tapi
sosial sekitarnya tidaklah baik dan benar. Aku yakin dia menjalani kehidupan
yang sangat berat.”
“Kalau
mengesampingkan fakta dia bertindak benar dan baik, saya yakin kalau mayoritas
sosial sekitar akan setuju dengan Sensei.”
Setelah
mengatakannya, Sensei melihat ke arahku seperti mengatakan ‘itulah yang
kupikirkan tadi’.
“Seperti
yang kuharapkan...Kalian berdua ini kontras satu sama lain. Aku khawatir dengan
fakta bahwa kalian berdua tidak bisa beradaptasi dengan sosial sekitar. Oleh
karena itulah aku ingin mengumpulkan kalian berdua di tempat yang sama.”
“Bukankah
itu sama saja dengan ruangan isolasi?”
‘Yeah,
mungkin begitu. Aku suka mengawasi siswa seperti kalian berdua, sangat
menyenangkan. Jadi mungkin...aku ingin kalian berdua bisa menjadi dekat.”
Dia
mengatakannya dengan senyum yang bahagia.
Lalu,
seperti biasa, dia mengunciku dengan lengannya. Dia mengunciku dengan lengannya
di sekitar pinggangnya sehingga aku tidak bisa kemana-mana. Gerakan beladiri
campuran ini mungkin
diinspirasi
dari manga. Meski siku milikku ini membuat bunyi yang cukup gaduh, tapi tetap
bisa menyentuh dada Sensei yang besar.
...Ya
ampun. Seperti biasanya, aku kesulitan untuk kabur setelah dia menggunakan
gerakan yang sempurna ini. Disisi lain ini menyenangkan, tapi harusnya ini
tidak boleh lama-lama karena bisa berbahaya bagi perasaan.
Tidak,
sebenarnya aku sudah tidak berminat soal ini.
Dan
sesuatu baru saja terpikirkan olehku, karena dadanya ada dua, kata ‘bust’
harusnya dibuat jamak menjadi ‘busts’.
♦ ♦ ♦
Sensei
baru melepaskanku setelah kami mencapai gedung khusus. Mungkin dia sudah
berhenti khawatir kalau aku akan kabur. Meski begitu, dia terus menatap ke
arahku ketika aku meninggalkannya. Dia tidak menunjukkan adanya sentimen yang
mengatakan sesuatu seperti ‘maaf ya aku akan meninggalkanmu’ atau ‘sebenarnya
aku tidak ingin meninggalkanmu...’. Satu-satunya hal yang bisa kurasakan
darinya adalah keinginannya untuk menghabisiku seperti mengatakan ‘Kau tahu apa
yang terjadi jika kau kabur, bukan?...’.
Aku
hanya bisa tersenyum kecut ketika berjalan menyusuri lorong ini.
Lorong
gedung khusus ini sangat sunyi dan udaranya sangat dingin.
Harusnya
ada klub-klub lain yang sedang beraktivitas tapi aku tidak mendengar satupun
suara yang mengindikasikan hal tersebut. Aku tidak tahu kalau gedung ini sunyi
mungkin karena gadis itu. Terkena pengaruh aura aneh dari Yukinoshita Yukino.
Akupun
menaruh tanganku di pegangan pintu klub. Jujur saja, aku merasa sangat depresi
saat ini, tapi jika kabur hanya akan membuat situasinya memburuk. Yang
terpenting adalah tidak membiarkannya mengatakan sesuatu yang buruk tentangku.
Aku harusnya tidak berimajinasi aneh-aneh tentang situasi kami berdua di
ruangan itu. Aku harus berpikir kalau kami berdua terpisah di ruangan itu.
Kami
berdua tidak memiliki hubungan apapun, aku harusnya tidak merasa aneh atau
tidak nyaman.
Dan
hari ini dimulai dengan: teknik pertama untuk menghindari rasa takut karena
kesendirian – ‘jika kau melihat orang yang tidak dikenal, anggap mereka sebagai
orang asing.’ Sayangnya, tidak ada teknik kedua.
Pada
dasarnya, suasana yang aneh itu adalah hasil dari berpikir ‘jika aku tidak
mengatakan sesuatu...’ dan ‘jika aku tidak berusaha akrab dengannya...’ mulai merasuki
pikiranmu.
Pola
pikir seperti ini juga mirip dengan ketika kau duduk di sebelah seseorang di
sebuah kereta, kau akan berpikir ‘Sial! Kita hanya berduaan disini! Ini sangat
aneh sekali!’.
Kalau
aku bisa menanamkan teknik tadi, aku sepertinya bisa menjalani ini. Akan lebih
baik jika dia hanya diam saja dan membaca buku atau semacamnya.
Setelah
pintu ruangan klub kubuka, aku melihat Yukinoshita duduk disana dan membaca
buku dengan posisi yang sama seperti kemarin.
“.....”
Memang
langkah yang bagus ketika aku membuka pintunya tapi aku mulai berpikir apakah
ide yang bagus jika aku mengatakan sesuatu. Ngomong-ngomong, aku akan
mengangguk saja dan masuk ke dalam ruangan.
Yukinoshita
hanya melihatku sejenak dan kemudian kembali lagi ke buku bacaannya.
“Di
ruangan seperti ini, kenapa dudukmu jauh sekali...Apa kau sedang mengucilkan
dirimu?”
Dia
tidak mempedulikanku dan aku merasa seperti menghilang begitu saja di udara.
Bukankah ini mirip seperti sikapku ketika di dalam kelas?
“Sapaan
yang aneh. Kau ini berasal dari suku mana?”
“...Selamat
sore.”
Akupun
menyapanya dengan sapaan yang kupelajari di TK, tanpa bisa membalas sikapnya
tadi.
Yukinoshita
meresponku dengan senyum.
Mungkin
ini pertamakalinya Yukinoshita Yukino tersenyum kepadaku. Ketika dia tersenyum,
aku berusaha mengamati apakah dia punya lesung pipi atau ada giginya yang
terlihat. Dengan kata lain, dia memang gadis yang manis. Sesuatu yang aku
sendiri tidak peduli dengan hal itu.
“Selamat
sore. Kupikir kau tidak akan pernah datang lagi.”
Senyumnya
tadi jelas-jelas hanyalah tipuan. Ini selevel dengan ‘Tangan Tuhan’ milik
Maradona.
“I-Ini
bukan apa-apa bagiku! Jika aku tidak datang, maka aku akan otomatis kalah, jadi
itulah satu-satunya alasanku! Ja-Jangan salah paham ya!”
Percakapan
barusan seperti sebuah percakapan drama genre rom-com. Tapi, kami ini bermain
di peran yang berlawanan. Ini seperti aku adalah si gadis dan dia adalah si
pria. Ini benar-benar buruk.
Sepertinya
Yukinoshita tidak tertarik dengan jawabanku. Begitulah, dengan kata lain, dia
melanjutkan pembicaraan seperti tidak peduli responku seperti apa.
“Ketika
orang sudah terhina hingga level tertentu, biasanya mereka tidak akan datang
lagi...Apa kamu ini semacam masochist?”
“Bukan...”
“Kalau
begitu, stalker?”
“Salah
lagi. Hei, kenapa kau berpikir kalau aku ini suka kepadamu?”
“Kau
tidak merasa begitu?”
Dasar
jalang. Dia memiringkan kepalanya seperti penuh tanda tanya. Sebenarnya ini
manis sekali, tapi aku tidak akan terjebak olehnya!
“Ya,
aku sangat yakin kalau kau menyukaiku.”
Yukinoshita
mengatakan itu tanpa rasa terkejut sedikitpun. Lebih tepatnya, dia bersikap
seperti biasanya, datar dan dingin.
Kuakui,
wajah Yukinoshita sangat manis. Saking manisnya hingga orang sepertiku, yang
tidak punya teman dan tidak berinteraksi dengan siapapun di sekolah ini, tahu
hal itu. Tidak ada yang bisa mendebatkan fakta kalau dia adalah salah satu
gadis tercantik di sekolah ini.
Tapi,
terlalu percaya diri merupakan sikap yang abnormal.
♦ ♦ ♦
“Kenapa
kau berpikir sangat naif seperti itu? Apa setiap hari adalah ulang tahunmu?
Ataukah pacarmu itu Sinterklas?”
Kalau
benar begitu, pikirannya akan selalu terperangkap dalam delusi kebahagiaan.
Jika
dia terus seperti ini, dia tidak akan mengalami pengalaman yang menyakitkan.
Dia sebaiknya merubah itu sebelum dia sampai di titik dimana dia tidak akan
bisa kembali.
Tampaknya
beberapa hal muncul dalam pikiranku. Aku putuskan untuk memilih dengan
hati-hati kata-kata yang kuucapkan agar bisa menyampaikan pesanku dengan baik.
“Yukinoshita.
Kau ini abnormal. Kau jelas-jelas berhalusinasi. Coba kau periksakan dirimu
atau sejenisnya.”
“Apakah
itu caramu peduli kepadaku?”
Yukinoshita
tertawa kecil dan melihat ke arahku, tapi kedua matanya tidak sedang
tertawa...mereka terlihat menakutkan.
Tapi
aku tidak mengatakan kalau dia ini sampah atau tidak berguna atau sejenis itu.
Dia harusnya berterimakasih kepadaku karena itu. Jujur saja ya, jika wajahnya
tidak cantik, aku yakin kalau aku akan menghajarnya.
“Well,
mempertimbangkan kalau dirimu ini selalu melihat rendah orang lain sehingga kau
akan melihatku sebagai orang asing. Tapi, kurasa cukup wajar kalau aku berpikir
seperti itu. Itu berdasarkan pengalamanku sendiri.”
Yukinoshita
tertawa sambil menarik bahunya dengan bangga. Entah mengapa pose tersebut
terlihat keren ketika dilakukan Yukinoshita, kurasa ini akan tetap menjadi
misteri.
“Berdasarkan
pengalaman, katamu...”
Dia
paling berpikir kalau itu berasal dari pengalaman romantis. Kurasa wajar jika
dia berpikir begitu kalau melihat penampilannya.
“Kau
sedang membicarakan kehidupan sekolahmu yang sangat menyenangkan...” akupun
menggumamkannya sambil mendesah.
“Ya,
ya. Itu benar. Mungkin lebih tepatnya jika yang kulakukan ini membuat sekolah
ini memiliki kehidupan yang damai.”
Yukinoshita
meresponku. Mengesampingkan itu, entah mengapa Yukinoshita seperti memandang
sesuatu yang jauh dan tatapannya diarahkan tidak ke arahku. Karena itu, aku
akhirnya berpikir kalau lekukan tubuhnya dari dagu hingga lehernya sangatlah
indah. Informasi barusan sungguh tidak berguna, aku serasa ingin mati saja.
Sambil
melihatnya, aku menyadari sesuatu. Well, jika aku terus berpura-pura keren maka
aku akan menyadari itu seketika, tapi gadis yang menganggap dirinya di atas
semuanya ini sudah memijakkan kakinya dimana dia sendiri tidak akan bisa punya
hubungan dengan orang normal. Oleh karena itu, mustahil dia bisa memiliki
kehidupan sekolah yang normal.
Mungkin,
aku harusnya bertanya saja kepadanya...
“Hey,
apa kau punya teman?”
Setelah
aku mengatakannya, Yukinoshita menoleh kepadaku.
“...Well
pertama-tama tolong jelaskan definisi dari teman dari awal hingga akhir.”
“Ah,
sudahlah. Kalimat semacam itu hanyalah kalimat yang diucapkan orang yang tidak
punya teman.”
Sumber:
diriku.
Well,
mari kita bicara hal yang serius, aku tidak tahu apa definisi dari teman.
Kuharap akan ada seseorang yang menjelaskan kepadaku apa yang membedakan ‘teman’
dengan ‘kenalan’. Apa seseorang yang kau lihat tiap hari akan kau sebut teman,
dan apakah orang yang kau lihat tiap hari itu kau sebut saudara? Mido Faado
reshi sorao? Kenapa ‘o’ terakhir tadi terdengar bukan seperti bagian
kalimatnya? Itu benar-benar menggangguku.
Sebagai
permulaan, ada sebuah garis yang jelas antara definisi seorang teman dan
kenalan. Terutama jika menyangkut pertemanan diantara para gadis.
Bahkan
orang-orang di kelas yang sama diklasifikasikan sebagai teman sekelas, teman,
dan sahabat. Kalau begitu, ini tentang perbedaan istilah itu muncul dari mana.
Tapi tiba-tiba aku mengatakan itu secara spontan.
“Karena
aku membayangkan dirimu yang tidak punya satupun teman, kurasa itu tidak apa-apa.”
“Aku
tidak pernah mengatakan kalau diriku tidak punya satupun teman. Meski, jika
benar aku tidak punya satupun teman aku tidak akan berpikir kalau aku merasa
rugi akan hal itu.”
“Ah
benar. Kau benar. Kau benar.”
Aku
mengatakan itu dengan cepat, menghindari kata-katanya ketika dia menatapku
dengan sinis.
“Begitulah,
kau ini terlihat seperti mudah sekali disukai oleh siapapun, kenapa kau tidak
punya teman?” tanyaku.
Yukinoshita
terlihat sedikit jengkel. Setelah itu, dia memalingkan pandangan matanya dariku
seperti tidak senang akan sesuatu dan berbicara.
“...Kau
tidak akan pernah mengerti diriku.”
Yukinoshita
sedikit mengembungkan pipinya dan melihat ke arah lain.
Well,
itu karena Yukinoshita dan diriku berbeda dan aku tidak akan pernah mengerti
sedikitpun apa yang ada di pikirannya. Aku sendiri kesulitan untuk memahami apa
yang dia katakan kepadaku. Tidak peduli seberapa keras usaha kita, pada
akhirnya kita tidak akan pernah bisa saling memahami satu sama lain.
Meski
begitu, ada satu hal yang mungkin kupahami dari Yukinoshita, yaitu
kesendiriannya.
“Bukannya
aku tidak paham apa yang hendak kau katakan. Menjadi penyendiri berarti kau
punya banyak waktu luang untuk dirimu sendiri. Kau bahkan bisa mengatakan kalau
kepercayaan bagi kebanyakan orang yang mengatakan ‘kau tidak harus sendirian’
itu adalah hal yang menjijikkan.”
“.....”
Yukinoshita
hanya melihatku sejenak sebelum dia menolehkan wajahnya ke depan dan menutup
kedua matanya. Aku bisa mengatakan kalau dia sedang memikirkan sesuatu dari
bahasa tubuhnya itu.
“Meski
kau pikir kau suka menjadi penyendiri, punya seseorang yang memberimu simpati karena
itu adalah hal yang sangat mengganggu. Aku benar-benar paham rasanya.” kataku.
“Mengapa
kau bersikap kita berdua seolah-olah ada di level yang sama. Itu benar-benar
mengganggu.”
Seperti
berusaha menutupi rasa jengkelnya, Yukinoshita memindahkan rambut panjangnya
yang ada di bahu ke belakang.
“Well,
meskipun kau dan diriku ini memiliki standar yang berbeda, kurasa kita punya
perasaan yang sama sebagai seorang penyendiri. Meski itu terdengar mengesalkan.”
kata Yukinoshita.
“Apa
maksudmu dengan mengatakan kita memiliki standar yang berbeda...Aku punya
alasanku sendiri mengapa aku menjadi penyendiri. Kau bisa menyebutku sebagai
Raja dari para penyendiri. Di lain pihak, akan sangat konyol menyebut orang
sepertimu sebagai seorang penyendiri.”
“Ada
apa ini...Tiba-tiba kau menceritakan keadaanmu meski kau tahu itu sia-sia
saja...”
Yukinoshita
tampak terkejut dan melihatku dengan ekspresi penuh keterkejutan.
“Kau
menyebut dirimu seorang penyendiri, padahal dirimu disukai oleh semua orang. Kau
ini memalukan bagi semua penyendiri di luar sana.”
Akupun
mengatakan itu dengan bangga, merasa puas dengan ekspresinya.
Tapi,
Yukinoshita tiba-tiba tertawa dengan ekspresi sinis.
“Itu
adalah kesimpulan yang sederhana sekali. Tampaknya kau hanya bisa meresponnya
sampai di saraf refleks saja, dimana itu tidak melibatkan aktivitas otak untuk
berpikir. Maksudku, apa yang kau pahami dari menjadi orang yang disukai banyak
orang? Oh benar, kau tidak pernah mengalami itu sebelumnya. Maaf, aku tidak mempertimbangkan
hal itu.”
“Jika
kau mencoba untuk mempertimbangkan itu, harusnya kau mempertimbangkan itu
hingga akhir...”
Bukankah
kau harusnya menyebut itu kebijakan palsu? Dia ini memang wanita jalang.
“Jadi
bagaimana rasanya menjadi populer?” tanyaku.
Yukinoshita
menutup matanya sejenak seperti memikirkan sesuatu.
Setelah
pura-pura batuk, dia berbicara.
“Bagi
seseorang sepertimu, yang tidaklah populer, mungkin ini tidak enak untuk
didengar.”
“Katakan
saja, aku sudah siap.” jawabku.
Yukinoshita
menarik napas yang dalam merespon kata-kataku itu. Aku tidak bisa merasakan hal
yang lebih tidak menyenangkan dari ini. Aku seperti kekenyangan dari percakapan
kami sebelumnya. Ini seperti memakan ramen dengan jumlah yang tidak terbatas.
“Karena
aku memang terlihat manis dari dulu, anak laki-laki yang mendekatiku biasanya
memiliki perasaan suka kepadaku.”
Aku
menyerah saja. Dia seperti menambahkan sayuran ekstra dan MSG ke ramenku. Tapi
meskipun aku sudah berpura-pura tenang dan percaya diri, aku tidak bisa begitu
saja berdiri dan pergi. Akupun berusaha menenangkan diriku dan menunggunya
selesai berbicara.
“Itu
bermula sejak kelas 6 SD. Setelah itu...”
Ekspresi
Yukinoshita berbeda dari sebelumnya. Ini seperti sedikit melankolis.
Kejadian
itu pasti sudah berlalu sekitar lebih dari 5 tahun. Memangnya apa hubungannya
dengan perasaan suka dari lawan jenis?
Jujur
saja, aku sendiri hampir 16 tahun hidup dengan merasa jijik ketika melihat
orang menyatakan perasaan suka ke lawan jenis, aku sendiri tidak pernah bisa
memahaminya. Aku bahkan tidak pernah menerima satupun coklat valentine dari
ibuku, itu juga sebuah dunia dimana aku sendiri tidak memahaminya. Dia merasa
seperti orang yang bisa membuat semuanya bahagia sehingga dia merasa menjadi
pemenang. Bukankah yang sebenarnya terjadi dia hanya membuatku terlihat seperti
makhluk yang setiap hari mendengarkan keluh kesalnya?
Tapi
hanya itu saja, bukan begitu?
Meski
ini berbeda seperti vektor positif dengan vektor negatif dalam gaya tarik, akan
terasa sangat kasar jika aku membalasnya dengan jujur. Ini seperti berdiri
telanjang di tengah-tengah badai. Ini sama kasarnya seperti memotongnya
tiba-tiba ketika berada dalam diskusi kelas.
♦ ♦ ♦
Aku
teringat kalau aku pernah disuruh berdiri di depan papan tulis sendirian sedang
siswa sekelasku mengelilingku dan meneriakkan ‘minta maaf! minta maaf!’ sambil
bertepuk tangan. Skenario itu mirip dengan sebuah neraka.
...Itu
adalah sebuah pengalaman yang pahit. Itu pertamakalinya aku menangis di
sekolah.
Tapi
aku baik-baik saja saat ini.
“Tapi
menjadi yang disukai pasti lebih baik daripada menjadi yang dibenci. Kau
terlalu dimanjakan. Terlalu dimanja.”
Aku
mengatakan begitu saja setelah memori yang tidak menyenangkan teringat di
kepalaku. Yukinoshita mendesah pendek. Dia tampaknya seperti sedang tersenyum,
tapi ekspresinya itu terlihat berbeda.
“Meski
aku sendiri tidak punya satupun keinginan agar orang-orang menyukaiku.” dia
menegaskan sesuatu dan menambahkan beberapa kata lagi. “Sebaliknya, jika orang-orang
itu benar-benar tulus menyukaiku, mungkin itu akan benar-benar menjadi hal yang
bagus.”
“Huh?”
Aku
secara spontan memintanya untuk mengulang apa yang barusan dia katakan setelah
mendengarkan kata-katanya yang sangat pelan tadi. Dia lalu menoleh kepadaku
dengan ekspresi wajah yang serius.
“Jika
kau berteman dengan seseorang yang sangat populer di kalangan para gadis,
bagaimana menurutmu?”
“Pertanyaan
yang bodoh. Aku tidak punya satupun teman, mengapa pula aku harus
mengkhawatirkan hal itu.”
Aku
menjawabnya dengan tegas. Seperti seorang pria. Meski aku sendiri yang
mengatakannya, aku juga terkejut betapa cepatnya diriku menjawabnya sebelum dia
menyelesaikan kata-katanya.
Tampaknya
Yukinoshita juga terkejut. Dia seperti kehilangan kata-kata dan membiarkan
mulutnya terbuka begitu saja.
“...Untuk
sejenak, aku sempat berpikir kalau kau baru saja mengatakan sesuatu yang keren.”
Yukinoshita menaruh tangannya di keningnya seperti terkena sakit kepala, lalu
dia merendahkan kepalanya. “Coba kau mengandaikan dirimu dalam posisiku tadi,
apa jawabanmu?”
“Aku
akan menghabisinya.”
Aku
tidak tahu apakah jawaban cepatku tadi akan memberinya jawaban yang memuaskan
atau tidak, tapi Yukinoshita menganggukkan kepalanya.
“Jelas
kan, kau akan mencoba untuk mengeliminasi orang itu? Itu seperti tindakan
brutal yang tidak masuk akal. Tidak, mereka bahkan punya perasaan yang lebih
rendah dari binatang...Sekolah tempatku berada punya banyak sekali orang-orang
seperti itu. Meski aku percaya kalau mereka itu adalah orang-orang yang patut
dikasihani karena hanya bisa melihat eksistensi diri mereka dengan melakukan
hal-hal tersebut.” Yukinoshita tiba-tiba tertawa kecil ketika mengatakannya.
Gadis
yang dibenci oleh para gadis. Kategori semacam itu pasti ada. Tidak sia-sia
rupanya aku bersekolah selama 10 tahun.
Bukannya
aku terlibat dalam itu, tapi itu adalah sesuatu yang bisa kau pahami hanya
dengan melihatnya dari kejauhan. Tidak, itu karena aku sedang melihat dari
luar-lah aku bisa memahaminya.
Yukinoshita
pastinya selalu berada di titik tengah masalah itu, tanpa ragu, dia selalu
dikepung dari segala arah. Bagi seseorang yang hidupnya seperti itu, aku bisa
membayangkan apa saja yang sudah dia lalui selama ini.
“Waktu
SD dulu, sepatu indoor-ku disembunyikan dariku sekitar 60 kali, tapi 50
kejadian itu pelakunya adalah gadis-gadis di kelasku.”
“Aku
sangat penasaran dengan 10 sisanya.”
“Tiga
kali dilakukan oleh anak laki-laki. Dua kali ketika ada guru yang membelikan
itu untukku. Dan lima sisanya, seekor anjing mencurinya dariku.”
“Persentase
dicuri oleh anjing tampaknya tinggi sekali.”
Itu
adalah sesuatu yang diluar imajinasiku.
“Aku
tadi sebenarnya hanya mencoba untuk tidak mempedulikannya!”
“Karena
hal itu, aku harus membawa pulang sepatu indoorku setiap hari dan akhirnya aku
juga harus membawa recorderku pulang ke rumah juga.”
Yukinoshita
mengatakan itu dengan ekspresi yang aneh. Setelah melihat ekspresinya itu, aku
tiba-tiba merasa simpati dengan apa yang menimpanya.
Hanya
karena itu? Faktanya itu adalah hal yang pernah kualami. Faktanya ketika SD
dulu, aku marasa bersalah karena ketika jam istirahat dimana tidak ada
seorangpun di kelas, aku menukar bagian mulut recorderku.
Aku
merasa bersalah dengan apa yang menimpa Yukinoshita.
Itu
benar. Itu benar. Hachiman. Jangan. Pernah. Berbohong.
“Pasti
itu sangat berat untukmu.”
“Ya,
itu sangat berat. Semua itu gara-gara aku terlihat manis.”
Saat
ini, kata-katanya itu tidak sekalipun menggangguku ketika aku melihat
Yukinoshita mengatakan itu dengan senyumnya yang bercampur perasaan depresi.
“Mau
bagaimana lagi. Tidak ada yang sempurna. Mereka itu semua lemah, mereka punya
pikiran yang jelek dan mereka mudah sekali iri dan berusaha menjatuhkan yang
lain. Cukup janggal, semakin kau terlihat superior maka kau akan semakin sulit
untuk hidup di dunia ini. Bukankah itu salah? Oleh karena itulah aku ingin
mengubah dunia ini dan orang-orang di dalamnya.” Mata Yukinoshita ketika
mengatakannya terlihat serius dan terlihat dingin, saking dinginnya hingga bisa
membakarmu seperti es kering.
“Bukan
terlalu gila jika kau mengerahkan seluruh usahamu untuk rencana luar biasa itu?”
“Mungkin.
Tapi itu terdengar lebih baik daripada rencanamu untuk diam hingga kering, layu
dan mati...Aku sangat benci caramu yang menganggap kelemahan itu sebagai hal
yang positif.”
Yukinoshita
mengatakan itu dan memalingkan pandangannya ke arah luar jendela.
Yukinoshita
Yukino adalah seorang gadis yang cantik. Sebuah fakta tidak terbantahkan dimana
aku sendiri mengakui itu dari hatiku yang terdalam. Dari luar, dia terlihat
seperti mustahil untuk didekati, dengan nilai akademis yang sempurna dan tanpa
cela. Tapi, sifatnya yang rumit itu merupakan luka yang fatal bagi karakter
dirinya. Sebuah kekurangan yang tidak bisa dikatakan manis. Tapi dia memiliki
sebuah alasan untuk memiliki luka fatal tersebut.
Aku
tidak mau mempercayai begitu saja apapun yang Hiratsuka-sensei katakan, tapi
menjadi orang yang punya semuanya, Yukinoshita juga punya penderitaannya
sendiri.
Pastinya
tidak akan sulit untuk menyembunyikan itu dan menipu dirimu sendiri dan orang
di sekitarmu. Itu adalah apa yang mayoritas orang-orang di dunia ini lakukan.
Persis seperti orang-orang pintar yang mendapat nilai bagus di ujian dan mereka
mengatakan kalau itu hanya ‘beruntung’ saja di ujian. Seperti bagaimana gadis
dengan wajah biasa-biasa saja yang iri dengan gadis cantik dimana poin
kejelekan mereka ditentukan dari seberapa gemuk mereka.
Tapi
Yukinoshita tidak melakukan itu.
Dia
tidak akan mau membohongi dirinya sendiri.
Bukannya
aku tidak mau mengakui tindakannya itu. Karena kita berdua memilih jalan yang
sama dalam hal itu.
Sebagai
pertanda kalau percakapan ini berakhir, Yukinoshita melihat kembali ke arah
buku bacaannya.
Sambil
melihatnya, aku merasakan sebuah perasaan yang aneh.
Dia
dan diriku memiliki kesamaan. Aku memikirkan itu dari harusnya aku yang
memikirkan diriku sendiri.
Kesunyian
ini...entah mengapa terasa menyenangkan.
Aku
merasa jantungku berdetak sedikit lebih kencang daripada biasanya. Sepertinya
jantungku ini mengatakan ingin berdetak lebih kencang lagi.
Maka...
Maka
dia dan aku...
“Hei,
Yukinoshita...Kalau kamu mau, aku bisa jadi tema-“
“Maaf.
Itu mustahil.”
“Apaaa?
tapi aku bahkan belum menyelesaikan kata-kataku!”
Yukinoshita
kembali ke buku bacaannya setelah menolakku dengan datar. Terlebih lagi, dia
memasang ekspresi seperti jijik akan sesuatu.
Yup,
gadis ini tidak ada manis-manisnya. Komedi romantis dan hal-hal sejenisnya
seperti meledak begitu saja.
Oregairu Volume 1 Chapter 2 Selesai

No comments:
Post a Comment
Berkomentarlah dengan Sopan